Masuk Islam  Diego Mendapat Dukungan Orang Tua
Keputusan Diego Michiels memeluk agama Islam mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. Diego mengaku mengutarakan keinginannya itu sekitar sebulan lalu.

"Saya sudah berbicara pada orang tua sekitar sebulan lalu, dan mereka mengizinkan," kata Diego di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (7/2).

Sebelumnya Diego menampik jika keputusannya menjadi mualaf untuk memuluskan jalan menikahi kekasihnya, pesinetron Nikita Willy.

"Bukan karena kekasih saya Islam," kata Diego.

Ia mengatakan, ajaran Islam sudah lama ia kenal semenjak dirinya masih berstatus warga negara Belanda.

"Sebelum saya ke Indonesia saya sering bermain bersama teman saya yang Islam, lalu saya mulai mempelajari buku dan akhirnya saya sekarang memutuskan masuk Islam," ucap Diego yang mengenakan peci warna putih.

Diego pun mengaku bahagia bisa mewujudkan keinginannya itu.

"Saya senang sekarang," ujarnya sambil tersenyum bahagia.
Tinggi dengan Bertawadhu'
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ ـــــ أبو نعيم

Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam bersabda, yang artinya,”Barang siapa bertawadhu karena Allah maka Allah meninggikannya”. (Riwayat Abu Nu’aim, dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthi)

Mengenai hakikat tawadhu’ Imam Hasan Al Bashri menyampaikan,”Yakni ketika seseorang kaluar dari rumahnya, maka ia tidak bertemu seorang Muslim pun kecuali ia menyangka bahwa ia (yang dijumpai itu-pent.) lebih baik dari dirinya sendiri (Az Zuhd karya Imam Ahmad, hal. 298).

Imam Al Ghazali menyampaikan mengenai tawadhu lebih terperinci, beliau berpesan,”Jika engkau melihat anak kecil, katakanlah dalam hatimu, 'Ia belum pernah bermaksiat kepada Allah. Sedangkan aku telah bermaksiat. Tidak diragukan lagi bahwa ia lebih baik dariku.' Jika engkau melihat orang yang lebih tua katakanlah,’Orang ini telah beribadah sebelum aku melakukannya. Tidak diragukan lagi bahwa ia lebih baik dariku.’ Jika melihat orang alim (pandai), katakan,’Orang ini telah memperoleh apa yang belum aku peroleh. Maka, bagaimana aku setara dengannya.’Jika dia bodoh, katakan dalam hatimu,’Orang ini bermaksiat dalam kebodohan, sedangkan aku bermaksiat dalam keadaan tahu. Maka, hujjah Allah terhadap diriku lebih kuat, dan aku tidak tahu bagaimana akhir hidupnya dan akhir hidupku.’ Jika orang itu kafir, katakan,’Aku tidak tahu, bisa saja dia menjadi Muslim dan akhir hidupnya ditututup dengan amalan yang baik dan dengan keislamannya dosanya diampuni. Sedangkan aku, dan aku berlindung kepada Allah dari hal ini, bisa saja Allah menyesatkanku, hingga aku kufur dan menutup usia dengan amalan keburukan. Sehingga ia kelak termasuk mereka yang dekat dengan rahmat sedangkan aku jauh darinya.’” (Maraqi Al Ubudiyah, hal.79)

Merujuk dari Ibnu Al Athaillah, Al Allamah Al Munawi menyampaikan bahwa tawadhu’ hakiki adalah tawadhu’ yang timbul dari persaksian akan kebesaran Allah. Sehingga, tawadhu kepada manusia dengan berkeyakinan bahwa dirinya besar, maka hal itu bukanlah tawadhu’, namun serupa dengan takabur (Faidh Al Qadir, 6/141).

Walhasil, barang siapa menginginkan diangkat oleh Allah maka hendaknya ia bertawadhu’. Dan derajat ketinggian menyesuaikan dengan kadar perendahan hamba.
Hari Hijab Dunia Diperingati Setiap 1 Februari
Untuk kali pertama, Hari Jilbab Dunia diperingati, Jumat (1 Februari 2013)

NEW YORK – Hari Jibab dunia dicetuskan Muslimah New York, Nazma Khan. Ia melihat jilbab bisa menjadi simbol toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

Selain itu, peringatan ini diharapkan pula mendorong pemahaman yang lebih baik tentang Islam dan Muslim.

“Tumbuh di Bronx, aku mengalami diskriminasi karena jilbab. Waktu itu aku sering dianggap seperti batman atau ninja,” katanya seperti dikutip onislam.net, Jumat (1/2).

Dari masa lalunya itu, ia tergerak untuk membuat satu kegiatan yang mempromosikan jilbab. Beruntung, gagasannya disambut baik perempuan di seluruh dunia.

Nazma Khan Sosok dibalik Hari Hijab Sedunia

Seorang perempuan asal New York, Amerika Serikat, Nazma Khan, melakukan kampanye melawan stigma negatif hijab (jilbab). Ide Hari Hijab Sedunia pada 1 Februari pun menggema melalui situs jejaring sosial dan menjalar ke 50 negara di seluruh dunia.

Muslimah berjilbab masih dianggap aneh di negara-negara Barat. Dituding Osama bin Laden-lah, teroris-lah, kuno, simbol penindasan pria terhadap perempuan muslim, simbol diskriminasi, dan sejuta tuduhan negatif lain. Semua tuduhan itu membuat Nazma Khan prihatin.

Apalagi pengaruhnya secara psikologis sangat buruk terhadap umat Islam di dunia. Karena itu, dia pun merintis gerakan memakai hijab bagi semua perempuan di dunia, baik muslim maupun non-muslim. Bagi non-muslim, ide ini menarik sebab menjadi semacam petualangan dalam berbusana yang juga bernuansa spiritual. Juga sebagai seruan toleransi.

Maka, pada Hari Hijab Sedunia, mereka pun mengenakan jilbab secara massal di sejumlah kota sebagai bagian dari upaya memahami pilihan para muslimah. Dan Nazma Khan sendiri mengalami betapa pahit hidup di lingkungan yang tak ada toleransi.

“Tumbuh di Bronx, New York, saya mengalami diskriminasi yang besar karena hijab saya,” kata Khan di sela-sela aksinya memperinhati Hari Hijab Sedunia pertama, Jumat kemarin. Perempuan ini pindah ke New York dari Bangladesh pada usia 11 tahun. Dia merupakan satu satunya Hijabi (istilah untuk pemakai jilbab) di sekolahnya.

Di sejumlah negara dengan mayoritas muslim, kata dia, jilbab banyak dijual di pasaran. Tapi tidak di New York. Memakai jilbab diolok-olok sebagai ninja atau Batman. “Ya, di sekolah menengah saya, itu merupakan Batman atau ninja,” katanya.

Khan masuk kuliah tak lama setelah peristiwa 9/11. Setelah itu kebencian terhadap dirinya bertambah. Dan semua itu hanya karena dia berjilbab.

“Mereka memanggil saya Osama Bin Laden atau teroris. Itu sangat mengerikan. Saya berpikir satu-satunya cara untuk mengakhiri diskriminasi ini adalah jika kita meminta rekan kita untuk merasakan sendiri pengalaman berhijab,” katanya.

Dia pun menyerukan, bahwa dirinya seorang muslimah. Bukan Batman atau ninja. Apalagi teroris. “Ayo mencoba merasakan berjilbab,” katanya.

Dan Khan tidak menyangka bila akhirnya aksi itu mendapat dukungan dari berbagai negara. Dia pun kebanjiran telepon dari berbagai belahan dunia. Dia dihubungi oleh puluhan orang dari berbagai negeri termasuk Inggris, Australia, India, Pakistan, Prancis, dan Jerman. “Informasi mengenai kelompok ini telah diterjemahkan ke dalam 22 bahasa,” katanya.

Sempat Takut

Esther Dale (28), yang tinggal di negara bagian California, AS, misalnya. Dia merupakan perempuan non-muslim yang mencoba menggunakan jilbab pada Jumat kemarin. Ibu tiga anak ini diberitahu oleh seorang temannya yang merupakan seorang hijabi. Dan rasanya, dia nyaman berjilbab.

Sebagai penganut Mormon, Dale paham pentingnya keyakinan dalam kehidupan sehari-hari. Dia juga merasakan tuduhan yang didapat hanya karena pakaian yang dikenakan. Dia mengetahui stigma terhadap penutup kepala dan berharap pula dalam kesempatan ini dapat digunakan untuk menghapusnya.

“Saya mengetahui mengenai kesantunan dalam perilaku, tidak hanya pakaian, dan ini hanya merupakan asumsi yang salah bahwa perempuan menggunakannya jika mereka dipaksa – terutama di AS. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk mendidik orang bahwa Anda tidak dapat memberikan tuduhan yang akurat mengenai seseorang berdasarkan apa yang mereka kenakan,” kata Dale.

Esther Dale mengungkap masih ada yang disalahpahami dari jilbab. Padahal, jilbab itu mencerminkan kesopanan. Artinya, salah bila perempuan memakainya karena terpaksa. “Itu sama sekali tidak benar,” kata dia seperti dikutip onislam.net, Jumat (1/2).

Lain Dale, lain pula Jess Rhodes. Wanita asal Inggris ini juga ambil bagian dalam acara tersebut. Ia memutuskan ikut setelah mengetahui acara itu melalui internet. Bahkan dia sudah berjilbab selama 8 hari dan akan terus mengenakan hijab selama satu bulan.

“Jujur, aku tidak begitu tahu bagaimana mengenakannya, tapi ini merupakan hal menarik, karena terkait pilihan hidup seorang muslimah,” kata Jess yang saat ini tercatat sebagai seorang mahasiswi.

Jess mengatakan orang tuanya sempat terkejut dengan apa yang dilakukannya. Namun, dia coba jelaskan apa tujuannya. “Reaksi orang tua, ehm, sedikit terkejut. Wajar memang, tapi setelah dijelaskan mereka akhirnya mengerti,” katanya.

Menurut Jess, reaksi orang tuanya mencerminkan kondisi nyata dari pandangan masyarakat Inggris terhadap jilbab. Karena itulah dia semakin termotivasi untuk ambil bagian dalam Hari Hijab Sedunia. “Mereka khawatir saya akan diserang di jalanan karena adanya kesenjangan toleransi,” katanya.

Dia juga sempat khawatir dengan reaksi ini, tetapi setelah delapan hari menggunakan jilbab dia terkejut dengan situasi positif yang dialaminya. “Saya tidak dapat menjelaskan tetapi orang-orang sangat membantu, terutama di toko-toko,” kata dia.




Widyan Al Ubudy, wanita asal Australia, merupakan pihak yang menginformasikan acara tersebut kepada Jess. Baginya, sangat penting bagi perempuan non-muslim ambil bagian dalam acara ini. Sebab, melalui mereka, kesalahpahaman dapat diluruskan. “Saya tidak terlatih menggunakan apa yang Anda sebut sebagai jilbab. Anda tinggal memasukkannya ke kepala Anda. Tetapi saya menemukan bahwa jangkauannya sangat luas, ” kata mahasiswi dari Norwich Inggris ini. (bbc/wis/rol)

Source : http://islamislogic.wordpress.com/2013/02/07/hari-jilbab-dunia-diperingati-setiap-1-februari/
Swiss Mempersilakan Wanita Muslim Memakai Cadar
Anggota parlemen Swiss sepakat menolak larangan penggunaan cadar bagi perempuan muslim, termasuk di tempat umum. Mereka menilai itu bukan masalah besar.

Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Jumat (28/9/12), Hugues Hiltpold dari Partai Demokrat Swiss bersikeras pemakaian jenis busana itu tidak menimbulkan masalah nyata di kehidupan sehari-hari. “Itu alasan agama, hanya tidak umum di komunitas muslim Swiss,” ujarnya pada Dewan Nasional.

Hugues mengatakan larangan penggunaan cadar dan pakaian tertutup bagi perempuan muslim, tindakan berlebihan dan bisa berdampak negatif pada pariwisata negara itu. Umat Islam ingin berkunjung bisa jadi membatalkan perjalanannya.

Secara umum, pemerintah tidak melarang, namun pada prakteknya diserahkan ke wilayah masing-masing.

Tahun lalu, di tempat sama, larangan itu justru didukung sejumlah besar anggota parlemen. Larangan itu diajukan Partai Sayap Kanan Swiss (SVP).
Nabi Muhammad bukan pedofilia, Aisyah saat itu 17 Tahun
Selama ini, kaum orientalis dan kaifr pembenci Islam kerap mengolok Nabi Muhammad seorang pedofilia karena mengawini Aisyah, bocah perempuan berusia sembilan tahun. Namun, ejekan itu kini terbantahkan.

Ulama Pakistan, Hakim Niyaz Ahmad, dalam bukunya Kebenaran Usia Aisyah Benar, menegaskan Aisyah telah berumur 19 tahun ketika menikah dengan Rasulullah.

“Kebanyakan sumber, terutama Abu Naim al-Isfahani, mengatakan Asma 27 tahun ketika pindah ke Madinah. Artinya, Aisyah saat itu setidaknya berusia 17 tahun,” tulis Hakim, seperti dilansir Bikyamasr.com, Sabtu (8/12/12).

Asma merupakan kakak dari Aisyah. Fakta ini sekaligus menggugurkan hadis-hadis yang menyebut Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad ketika berusia sembilan tahun, seperti diriwayatkan Hisyam Urwa.

Menurut Hakim, penuturan Hisyam tidak bisa lagi dipercaya karena ketika itu dia sudah berusia 84 tahun. Kebanyakan dari sumber hadis Hisyam sudah meninggal sehingga sulit buat membuktikan ucapannya itu.

Dari hasil penelusuran pelbagai dokumen agama dan sejarah, Hakim menyimpulkan Aisyah memang sudah menginjak usia siap menikah.

Dia menjelaskan sebelum menikah dengan nabi, Aisyah sudah bertunangan dengan Jubair bin Mutam. Keluarga calon mempelai lelaki itu kemudian tidak terima setelah calon menantu mereka masuk Islam.

Sang ayah, Abu Bakar, lantas berunding dengan keluarga Jubair. Dia ingin memutus ikatan pertunangan antara Aisyah dan Jubair. Perundingan berjalan mulus, Aisyah dan Jubair putus hubungan. Selepas itu, baru Nabi Muhammad melamar Aisyah.

Membedakan Kesenangan dan Ketenangan
Manusia hidup di dunia umumnya pasti mendamba kesenangan. Bermacam usaha yang dilakukan manusia tujuannya tidak lain adalah agar memperoleh kesenangan hidup itu. Persoalannya, apakah kesenangan hidup otomatis mendatangkan ketenangan hidup?

Islam membedakan antara kesenangan dan ketenangan. Buktinya banyak orang hidup senang tetapi justru tidak tenang. Jika meminjam pendapat Imam Ghazali dalam Al-Munqidz min Al-Dhalal, ada empat faktor yang menjadi sumber kesenangan.

Pertama, ilmu pengetahuan. Terlebih di zaman modern ini, orang berilmu berpeluang lebih besar mendapat kesenangan ketimbang orang bodoh. Contohnya, yang bergelar sarjana lebih mudah mendapat pekerjaan mapan daripada yang tidak bergelar.

Kedua, kesehatan. Pasti tidak ada orang yang ingin sakit. Sehat membuat hidup menyenangkan, sakit membuat hidup menggelisahkan. Saat sakit, kita tidak boleh makan sembarangan. Semakin kompleks penyakitnya, semakin banyak pula pantangannya. Juga kita tidak bebas melakukan apa saja seperti ketika sehat.

Ketiga, kekayaan. Orang bekerja, sampai menghalalkan segala cara, maksudnya adalah supaya segera kaya. Orang kaya lebih berpeluang untuk senang ketimbang orang miskin. Dengan harta, orang mudah membeli apa saja, rekreasi kemana saja, bahkan berangkat haji ke Tanah Suci.

Keempat, kesenangan bersumber dari jabatan. Jabatan menjadi jaminan kemudahan-kemudahan dalam hidup. Orang yang punya jabatan tinggi juga lebih dihormati ketimbang orang rendahan. Jabatan membuat hidup jadi mentereng, dan karenanya, menjadi sumber kesenangan.

Persoalannya, punya empat hal itu pasti menjamin hidup kita tenang dan tentram? Tidak. Empat hal di atas belum cukup untuk mendatangkan ketenangan. Ketenangan baru didapat ketika kita punya yang kelima, yaitu hubungan baik dengan Allah.

Batin yang terhubung dengan Allah inilah yang membuat hidup jadi tenang, tenteram. Dan sarana untuk membuat kita connect dengan Allah adalah ibadah. Ibadah secara ikhlas, benar, istiqamah akan menjadi sumber ketenangan. “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (Ar-Ra'du: 28).

Ibadah juga potensial menghalangi kita dari dosa (Al-Ankabut: 45), membersihkan jiwa kita (At-Taubah: 103). Dengan aktif beribadah, hidup kita terbimbing. Selalu merasa kehadiran Allah. Tidak sombong saat mendapat nikmat, tidak putus asa ketika ditimpa musibah.

Sebagai Mukmin, tidak salah kita mendapat ilmu pengetahuan, kesehatan, kekayaan, dan jabatan. Tapi itu semua harus kita topang dengan ibadah. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat kesenangan sekaligus ketenangan. Kesenangan plus ketenangan itulah kebahagiaan.

Oleh : M Husnaini

Belajar Hidup Dari Jari Jari Tangan
Dalam kehidupan ini banyak profesi yang bisa dilakukan, sebagai guru, petani, nelayan, pedagang, wartawan dan lain sebagainya. Masing-masing profesi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. 

Sayangnya, kadang kita suka membanggakan profesi kita lebih baik dari yang lain, bahkan ada yang sampai takabbur (sombong) karena berprofesi tertentu.

Padahal, Allah SWT sudah mengingatkan dalam firman-Nya yang artinya, ''Katakanlah, masing-masing kalian berbuat sesuai dengan kemampuannya.''

Rasulullah saw juga sudah mengingatkanا yang artinya, ''Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancurannya.''

Saat ini, yang terbaik adalah kita lakukan tugas dan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya. Tunjukkan prestasi kita dalam pekerjaan tersebut dan harus professional. Jangan merasa lebih baik dari orang lain.

Dialog berikut ini mungkin bisa jadi pelajaran. Suatu hari terjadi perdebatan antara jari-jari tangan. Jari jempol berkata: saya adalah jari yang paling hebat, karena kalau majikan saya mengatakan sesuatu yang bagus, sayalah yang di acung-acungkan sambil mengatakan: bagus…bagus…bagus.

Mendengar hal ini, jari telunjuk berkata: ''Siapa yang bilang jari jempol lebih hebat, sayalah yang paling hebat, kalau majikan saya menunjuk sesuatu, sayalah yang digunakan, sayalah jari yang paling terhormat.

Jari tengah angkat bicara, ''Hai kalian diam semua. Sayalah jari yang paling mulia. Lihatlah posisi saya! Di sebelah kanan, diapit jari telunjuk dan jempol dan di sebelah kiri, diapit jari manis dan kelingking. Sayalah yang paling mulia.

Jari manis tak mau kalah. Dia berucap, ''Saya dong yang paling terhormat. Coba kamu lihat, kalau majikan saya membeli cincin berlian yang harganya mahal, pasti cincin itu dipakaikan di jari manis. Tandanya, saya lah yang paling terhormat.

Jari kelingking berucap belakangan, ''Semua salah. Sayalah yang paling hebat. Walaupun bentuk saya kecil dan letaknya paling akhir, saya mempunyai fungsi yang sangat besar.'' 

Kalau hidung atau telinga majikan saya kotor, kata jari kelingkiing, ''Sayalah yang diberikan kehormatan membersihkannya. Tandanya, saya mendapat perlakukan istimewa dari majikan saya.''

Masing-masing jari berdebat, menonjolkan keistimewaan masing-masing, tak ada mau mengalah. Bila kita analisa, sifat merasa diri paling hebat, paling benar dan paling segala-galanya adalah sifat Iblis laknatullah alaih. (Allah melaknatnya).

Jauhilah sifat merasa paling baik, merasa paling hebat, merasa paling mulia dan lain sebagainya karena itu adalah sifat-sifat Iblis. Na’udzubillah.

Belajarlah dari perdebatan jari-jari tadi. Seandainya jari-jari bersatu, benda seberat apapun dengan mudah dapat terangkat. Bila jari-jari bercerai berai, benda ringan dan kecil pun tidak akan mudah diangkat.

Mudah-mudahan para pemimpin kita bisa belajar dari jari-jari tangan. Mudah-mudahan mereka mau bersatu untuk menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. 

Hanya dengan persatuan dan ukhuwah yang erat, beban yang paling berat sekalipun akan dapat diselesaikan dengan baik, semoga. Wallahu 'alam bish-shawab.

Oleh : H. Ahmad Dzaki, MA

Hikmah di Balik Kisah Nabi Khidir
Pada era kerasulan Musa, hidup seorang nabi bernama Khidir. Asal usulnya tak jelas. Ada yang mengatakan, ia merupakan keluarga Dzulqarnain, ada pula yang mengatakan, ia keturunan bangsa Persia dan Romawi. Beberapa menyebut, Khidir merupakan nama julukan dari pria kalangan biasa bernama Balya bin Malkan.

Entah siapa Khidir tersebut, sosoknya begitu misterius. Ia pun dikisahkan dalam sebuah perjalanan Musa yang penuh hal ajaib, luar biasa, dan tentunya penuh misteri.

Suatu hari, seorang dari Bani Israil menemui Musa dan kemudian bertanya, “Wahai Nabiyullah, adakah di dunia ini orang yang lebih berilmu darimu?” ujarnya. Tersentak, Nabi Musa pun jelas menjawab, “Tidak.” Tentu saja, siapa yang mampu menandingi ilmu Musa, utusan Allah kala itu. Sumber tuntunan agama dan sumber pengetahuan wahyu Allah ada di genggaman Musa. Ia memiliki Taurat dan beragam mukjizat dari-Nya.

Namun, rupanya Allah memiliki hamba lain selain Musa yang lebih berilmu. Allah pun mewahyukan pada Musa bahwa tak seorang pun di muka bumi yang mampu menguasai semua ilmu. Tak hanya Musa, di belahan bumi lain pun terdapat seorang yang memiliki ilmu luar biasa.

Ilmu itu tak dimiliki Musa sekalipun. Orang itu juga seorang nabi. Mengetahui hal tersebut, sontak Musa pun ingin berguru pada orang tersebut. Ia bersemangat ingin menuntut ilmu dan menambah pengetahuanya.

“Ya Allah, di mana orang ini bisa saya temui? Saya ingin bertemu dengannya dan belajar darinya,” tanya Musa antusias. Nabi Musa sendiri dikenal dengan keistimewaan sebagai nabi yang bisa berbicara langsung dengan Allah tanpa perlu perantara malaikat. Allah pun menunjukkan sebuah tempat di mana Musa dapat menemui orang berilmu tersebut.

Di pertemuan antara dua lautan, demikian lokasi ahli ilmu itu. Agar lebih yakin dan tak salah mengenali orang, Musa pun meminta tanda identitas orang tersebut. Allah pun memerintahkan Musa membawa seekor ikan dalam wadah berisi air. Ikan tersebut akan menunjukkan arah di mana keberadaan sang ahli ilmu Khidir.

Berangkatlah Musa menyusuri lautan, mencari keberadaan Khidir. Ia ditemani muridnya yang terkenal setia Yusya bin Nun. Yusya lah yang membawa bejana berisi ikan yang akan menghantarkan Musa pada Khidir.

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, keduanya tak juga menemukan Khidir. Meski lelah, keduanya tetap melanjutkan perjalanan. “Aku tak akan berhenti sebelum sampai ke pertemuan dua lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun,” ujar Musa pada Yusya.

Perjalanan telah jauh, tapi Khidir tak juga dijumpai. Musa pun memutuskan untuk sejenak beristirahat di sebuah batu besar di tepi sungai. Kelelahan, Musa pun tertidur. Saat Musa terlelap, Yusya melihat ikan dalam bejana tersebut meloncat keluar dari bejana ke arah sungai. Tapi, Yusya lupa mengabarkannya pada Musa. Saat Musa bangun, keduanya pun melanjutkan perjalanan tanpa ingat panduan sang ikan.

Pejalanan melelahkan keduanya hingga mereka merasa lapar. Ketika Musa menanyakan bekal untuk makan, Yusya baru teringat pada si ikan. “Saat kita istirahat di batu tadi, sungguh aku benar-benar lupa mengabarkan tentang ikan itu.

Tidaklah yang melupakanku untuk mengabarkannya padamu kecuali syaitan. Ikan itu kembali ke laut dengan cara yang aneh sekali,” ujar Yusya. Musa pun langsung mengetahui itu adalah sebuah tanda, “Itulah tempat yang kita cari,” ujar Musa bersemangat.

Lupa sudah rasa lapar tadi, keduanya pun kembali ke arah semula tempat mereka beristirahat. Sampailah mereka pada tempat yang mereka tuju dan bertemu sosok pria yang wajahnya tertutup sebagian oleh kudung. Sikapnya tegas menunjukkan kesalehannya. Pria itulah Khidir. “Bolehkah aku mengikutimu agar kau bisa mengajarkanku sebagian ilmu di antara ilmu-ilmu yang kau miliki?” ujar Musa kepada Khidir.

Apa jawab Khidir kepada Musa? “Sungguh kau tak akan sanggup untuk sabar jika bersamaku. Bagimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang itu,” kata Khidir.

Bukan Musa kalau langsung patah semangat dengan penolakan halus itu. “Insya Allah, kau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar. Aku tak akan menentangmu dalam urusan apa pun,’” ujarnya. Mendengar ketekadan hati Musa, Khidir pun akhirnya mengizinkan Musa mengikutinya. Tapi, dengan syarat, “Jika kau mengikutiku, jangan menanyakan suatu apa pun padaku sampai aku yang menerangkannya padamu,” kata Khidir.

Musa girang dapat mengikuti Khidir. Artinya, ia dapat menuntut ilmu dari Khidir. Pergilah Khidir dan Musa menumpang sebuah perahu. Tapi, ketika perahu itu hampir mendarat, Khidir melubangi perahu tersebut. Musa kaget, ia pun berkata, “Mengapa kau lubangi perahu ini. Kau akan membuat penumpang tenggelam. Kau telah melakukan sebuah kesalahan besar.”

Khidir hanya menjawab, “Bukankah aku telah berkata bahwa kau tak akan sabar bersamaku.” Musa pun teringat janjinya tak akan menanyakan apa pun. Ia pun menyesali ucapannya. “Jangan hukum aku atas lupaku dan jangan bebani aku dengan kesulitan urusan,” kata Musa.

Keduanya pun melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan, mereka berjumpa dengan seorang anak. Mengagetkan, Khidir kemudian membunuhnya. Musa yang sifatnya spontan langsung bereaksi. “Mengapa kau bunuh jiwa yang bersih? Dia tak membunuh orang lain. Sungguh, kau melakukan suatu yang mungkar,” protes Musa.

Lagi-lagi, Khidir hanya menjawab, “Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa kau sungguh tak akan sabar bersamaku?” Musa pun kembali teringat janjinya. Dia pun memendam rasa amarah sekaligus herannya atas kelakuan Khidir. “Jika setelah ini aku bertanya kembali padamu, jangan kau izinkan aku lagi mengikutimu. Sungguh, kau cukup memberiku uzur,” kata Musa.

Perjalanan keduanya dilanjutkan. Tibalah mereka di sebuah negeri. Tapi, tak ada satu pun penduduk negeri yang berkenan menjamu mereka. Lagi, Khidir melakukan perbuatan yang tak masuk akal bagi Musa. Kali ini khidir tidak melakukan perbuatan mungkar di negeri tersebut, ia justru memperbaiki dinding sebuah rumah yang hampir roboh. “Jika kau mau, kau dapat mengambil upah karena telah memperbaiki itu,” ujar Musa.

Lupa sudah Musa akan tekadnya untuk diam tak mengomentari ulah Khidir. Sesuai ucapan Musa, ia pun tak lagi mendapat pengecualian. Sudah tiga kali Musa mempertanyakan sikap Khidir. “Inilah perpisahanku denganmu,” kata Khidir.

Sebelum berpisah, Khidir pun menjelaskan maksud dibalik perbuatan yang Musa tak sabar atasnya. “Aku akan memberitahu tujuan perbuatanku. Perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut. Aku merusak perahu mereka karena mereka dihadapkan pada seorang raja yang merampas setiap perahu,” kata Khidir.

Betapa ilmu Khidir benar-benar luar biasa. Ilmu tersebut membuatnya sangat bijak. Bayangkan jika Khidir tak melubangi perahu itu, orang miskin tersebut akan kehilangan tak hanya perahu, tapi juga mata pencaharian mereka. Dengan perahu yang berlubang, raja lalim mana yang suka untuk mengambilnya.

Itu baru satu kisah. Kisah selanjutnya, Khidir menjelaskan, “Adapun anak itu, kedua orang tuanya merupakan Mukminin. Kami khawatir, dia akan mendorong kedua orang tuanya pada kesesatan dan kekafiran. Dan, kami menghendaki supaya Rabb mengganti anak lain untuk mereka yang lebih baik, suci, dan lebih sayang pada ibu bapaknya,” ujar Khidir.

Tahulah Musa bahwa ilmu yang dimiliki Khidir benar-benar luar biasa. Ia mengetahui hal misterius dan mengambil kebijaksanaan atasnya. Kisah terakhir, “Dinding rumah itu merupakan milik dua anak yatim di negeri tersebut. Di bawahnya tersimpan harta benda simpanan sang ayah untuk keduanya. Ayahnya adalah seorang yang shalih. Rabbmu menghendaki agar mereka sampai dewasa dan mengeluarkan simpanan itu sebagai rahmat Rabbmu,” jelas Khidir.

Terjawablah semua pertanyaan Musa atas sikap Khidir. Musa pun kagum dengan ilmu yang diajarkan Allah kepada Khidir. “Tidaklah aku melakukannya menurut kemauanku sendiri,” pungkas Khidir yang menunjukkan betapa dia memiliki ilmu yang luar biasa dari rahmat Allah.

Perjalanan Musa dan Khidir tersebut dikisahkan dalam Alquran surah al-Kahfi ayat 60 hingga 82. Rasulullah pun mengisahkannya dalam sebuah hadis riwayat Ubai Ibn Ka’ab yang tercantum dalam Shahih Al Bukhari. Ibnu Katsir menjelaskan kisah dengan rinci melalui hadis tersebut.

Di akhir hadis, Rasulullah bersabda, “Kami berharap, Musa dapat sabar dengan kebajikan yang mana Allah mungkin akan memberitahu kami lebih banyak tentang kisah ini. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada Musa,” sabda Rasulullah.

Adapun dalam al-kitab atau Injil Perjanjian Lama, tokoh Khidir tak disebut-sebut meski kisahnya terjadi di masa Bani Israil. Tapi, beberapa dari cendekiawan Bani Israil menganggap, Khidir merupakan Elia atau Ilyas. Beberapa mereka juga mengenal Khidir dengan sebutan St George. Dalam buku Mystical Dimensions of Islam karya Annemarie Schimmel, kisah Khidir termasuk di dalamnya dan disebut sebagai sosok yang kekal dan belum wafat hingga kini sebagaimana Nabi Isa.

Tapi, legenda mengenai kekalnya Khidir tersebut tampaknya hanyalah dongeng belaka. Ibnul Qayyim dalam kitabnya al-Manarul Munif fil Hadits-Shahih wa Dhaif menyebutkan bahwa tak ada riwayat shahih yang menyebut bahwa Khidir masih hidup.

Hikmah di Balik Kisah Nabi Khidir

Terdapat banyak hikmah dari kisah Khidir , salah satunya, yakni menuntut ilmu. Dalam Islam, menuntut ilmu merupakan perkara wajib. Tampak dalam kisah betapa Nabi Musa sangat antusias menuntut ilmu. Bahkan, meski kedudukannya saat itu merupakan nabi ia tak segan untuk terus menuntut ilmu.

Beliau bahkan bersedia menempuh perjalanan panjang demi bertemu sang guru. Beliau yang berstatus tinggi sebagai nabi, bahkan bersedia merendahkan diri dihadapan sang guru. Alasannya, karena ilmu memiliki kedudukan tinggi dalam Islam.

Allah berfirman dalam surah al-Mujadilah ayat 11, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama) beberapa derajat.” Banyak ayat yang menyatakan keutamaan ilmu dan kewajiban menuntutnya. Dalam hadis, Rasulullah pun sering mengingatkan umatnya untuk menuntut ilmu. Beliau pun menyatakan keutamaan ilmu bagi para Muslimin.

Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Abud Darda menceritakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, Allah akan mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) jannah dan sesungguhnya para malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu.

Dan, sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Allah yang di langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun untuknya. Dan, sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka, barangsiapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak.”

Menikah Kurangi Resiko Serangan Jantung
Penelitian terbaru di Finlandia menemukan pria dan wanita dua kali lebih mungkin meninggal setelah peristiwa sindrome koroner akut seperti serangan jantung jika mereka belum menikah. 

Orang yang belum menikah juga memiliki tingkat yang lebih tinggi dari ACS, dengan perbedaan yang meningkat selama masa studi 15 tahun.

"Hasil penelitian menunjukkan pernikahan mengurangi resiko penyakit koroner akut dan kematian akibat penyakit tersebut, baik pada pria atau wanita," kata ketua peneliti Dr.Aino Lamminatausta dari Turku University Hospital dikutip ABC News mengutip European Journal of Preventive Cardiology.

Menurut para peneliti, pernikahan ternyata bisa mengurangi risiko pria maupun wanita untuk terkena penyakit jantung. Penelitian lain telah menunjukkan bahwa menjadi lajang atau hidup sendiri meningkatkan risiko pengembangan dan kematian akibat penyakit jantung.

Lamminatausta mengumpulkan data lebih dari 15.300 orang yang terkena serangan jantung antara tahun 1993 dan 2002. Dari jumlah pasien tersebut 7.700 orang meninggal 28 hari pasca serangan jantung.

Para peneliti menemukan pria yang belum menikah 58 - 66 persen lebih mungkin mengalami serangan jantung dan 60 -65 persen dari wanita lajang dibandingkan dengan anggota dari pasangan yang sudah menikah.

Perbedaan risiko pada kematian akibat penyakit jantung bahkan lebih besar lagi pada kelompok orang yang menikah dan yang hidup sendiri. Untuk pria lajang, risiko kematian 28 hari pasca serangan jantung melebihi 60 persen.

Apa yang menjadi dasar perbedaan antara orang yang sudah menikah dan yang jomblo ini belum diketahui secara jelas. Beberapa alasan yang dianggap lebih mungkin adalah karena orang yang jomblo pada umumnya status kesehatannya lebih rendah. Sementara orang yang sudah menikah juga cenderung memiliki status finansial lebih mapan dan lebih banyak teman serta dukungan sosial lebih besar, yang semuanya meningkatkan status kesehatan.

Menurut Dr.Gregg Fonarow, pakar kardiologi dari Universitas California, Los Angeles alasan pernikahan dapat melindungi orang dari serangan jantung memang memerlukan studi lebih lanjut.

Lebih Bahagia lebih Irit

Sebelumnya, tahun 2012,  peneliti dari Michigan State University juga telah menemukan bahwa orang yang sudah menikah cenderung lebih bahagia selama hidup daripada orang yang belum menikah.

Studi kami menunjukkan bahwa orang rata-rata lebih bahagia daripada mereka tidak menikah," ujar Stevie C.Y. Yap, seorang peneliti dari departemen psikologi Michigan State University (MSU) sebagaimana sudah dimuat di Journal of Research in Personality.

Sementara itu, penelitian di Inggris menemukan, menikah jauh lebih irit dibanding menjomblo. Menurut riset, pasangan yang telah menikah umumnya dapat melakukan penghematan. Mereka umumnya dapat menghemat sekitar 68 Pound per bulan dan mencapai 800 Pound per tahun.