Masuk Islam  Diego Mendapat Dukungan Orang Tua
Keputusan Diego Michiels memeluk agama Islam mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. Diego mengaku mengutarakan keinginannya itu sekitar sebulan lalu.

"Saya sudah berbicara pada orang tua sekitar sebulan lalu, dan mereka mengizinkan," kata Diego di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (7/2).

Sebelumnya Diego menampik jika keputusannya menjadi mualaf untuk memuluskan jalan menikahi kekasihnya, pesinetron Nikita Willy.

"Bukan karena kekasih saya Islam," kata Diego.

Ia mengatakan, ajaran Islam sudah lama ia kenal semenjak dirinya masih berstatus warga negara Belanda.

"Sebelum saya ke Indonesia saya sering bermain bersama teman saya yang Islam, lalu saya mulai mempelajari buku dan akhirnya saya sekarang memutuskan masuk Islam," ucap Diego yang mengenakan peci warna putih.

Diego pun mengaku bahagia bisa mewujudkan keinginannya itu.

"Saya senang sekarang," ujarnya sambil tersenyum bahagia.

Jayne, Kebahagian Bisa Memeluk Islam
Usai mendalami Islam pada April tahun lalu, Jayne Kemp memutuskan memeluk Islam.

Kini, petugas pendukung Kepolisian yang biasa beroperasi di Eccles, Salford, Inggris itu masih aktif berpatroli. Tapi setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, ia mulai menggenakan jilbab.

Perubahan itu memang mengejutkan banyak pihak. Namun, Jayne dengan lemah lembut coba memberikan penjelasan kepada Keluarga dan lingkungannya.

"Awalnya, aku khawatir dengan apa yang dipikirkan keluarga dan lingkungan. Tapi Alhamdulillah, mereka sangat pengertian," katanya seperti dikutip onislam.net, Jumat (1/2).

Menurut Jayne keluarga dan lingkungannya sangat mendukung apa yang diputuskannya. Bagi mereka, selama itu pilihan dan bukan paksaan, maka tidak ada masalah dengan hal itu.

"Adikku bahkan mengatakan diriku sangat bahagia, jauh lebih bahagia dengan sebelumnya," ungkapnya.

Kendati telah diterima menjadi muslim, Jayne tidak berniat memaksakan ajaran Islam kepada kedua anaknya.

"Aku serahkan putusan itu kepada mereka," sebut dia.

Terisolasi Karena Menjadi Mualaf? Ini Solusinya
Satu tantangan terbesar seorang mualaf setelah memeluk Islam adalah terisolasi dari keluarga dan lingkungan. Kondisi itu juga didukung dengan rasa tidak nyaman dari mualaf ketika berada di lingkungan non-muslim.

Pendiri Super Muslimah Project, Amal Stapley, mengungkap situasi itu sangat wajar. Setiap mualaf butuh proses untuk merasa nyaman. “Tentu, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi,” kata dia seperti dikutip onislam.net, Rabu (21/11/2012).

Faktor yang dimaksud mencakup dimana mualaf tinggal, dukungan masyarakat, status perkawinan, proses mualaf memeluk Islam, pemahaman dan harapan, dan kepribadian mualaf sendiri.

Menurut Amal, Allah Subhanahu Wa Ta’ala membawa setiap mualaf menuju jalur yang terbaik dengan sebelumnya memberikan semacam tes untuk mengkonfirmasi level keimanan mualaf.

“Memang tidak ada hal yang baku dalam masalah ini. Yang pasti, butuh penyesuaian dengan melihat dari kebutuhan si mualaf,” kata dia. Tetapi, Amal menyarankan kepada para mualaf beberapa poin terkait masalah tersebut.

Poin pertama, setiap mualaf harus memiliki harapan yang realistis. “Islam adalah cara hidup ideal. Tapi perlu diketahui tidak setiap muslim baik dan mungkin tidak bisa memberikan bantuan kepada para mualaf, ” kata dia.

Poin kedua, kata Amal, setiap mualaf disarankan untuk bergabung dengan komunitas mualaf. Ini dilakukan guna mempermudah mualaf berbagi pengalaman. “Kalau sulit ditemukan, coba cari via internet atau hubungi masjid terdekat. Insya Allah akan banyak informasi soal komunitas,” kata dia.

Setelah menemukan komunitas, kata dia, cobalah untuk aktif dalam setiap kegiatan. Itu juga membantu mualaf untuk lebih mendalami Islam sekaligus banyak berkenalan dengan sesama mualaf. “Ini sangat berguna dalam proses transisi yang anda alami,” ucapnya.

Poin ketiga, lanjutnya, menjadi bagian dari komunitas masjid. Mengapa demikian, sebab masjid merupakan pusat kegiatan umat Islam. Di masjid, mualaf akan menemukan berbagai komunitas muslim. “Jangan gugup atau malu. Ajaklah siapapun untuk berbicara. Bersosialisasilah. Itu akan bermanfaat bagi anda,” ucapnya.

Poin terakhir, keempat, lanjut dia, coba untuk menjaga hubungan baik dengan keluarga meski mereka non-muslim. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam misalnya, beliau memperlakukan pamannya dengan penuh cinta kasih. Meski pamannya bukan seorang muslim dan menolak Islam. “Anda tidak tahu, apa rencana Allah Subhanahu Wa Ta’ala soal mereka. Bisa jadi, satu saat mereka akan diberikan hidayah,” tuturnya.

Hal penting lainnya, kerabat atau tetangga yang non-muslim sebelumnya memiliki peran penting dalam kehidupan mualaf. Itu menjadi alasan bagi setiap mualaf untuk tetap memperlakukan mereka dengan baik.

Tentu dengan catatan, hindari permintaan apapun dari mereka yang mendorong mengingkari peringatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Yang anda butuhkan adalah modifikasi posisi anda,” kata dia.

Source : http://islamislogic.wordpress.com/2012/11/26/terisolasi-karena-menjadi-mualaf-ini-solusinya/

Usianya baru 18 tahun. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah kota kecil di Amerika Serikat. Berpamitan hendak berlibur dan jalan-jalan ke luar negeri, ia terbang ke Arab Saudi dan menyatakan keislamannya di negeri itu.

“Dia masih ada di sini untuk berlibur,” kata Majed Al-Osaimi, direktur http://www.edialogue.org, website dakwah yang banyak dikunjungi publik Barat yang tertarik pada Islam.

Berbicara kepada Arab News, ia mengatakan seorang remaja, yang sedang belajar di Amerika Serikat, juga menerima Islam sebagai agama baru setelah ngobrol dengan seorang daiyah yang berhubungan dengan website itu.

“Gadis itu telah memperoleh beberapa pengetahuan tentang Islam dan membersihkan semua keraguannya selama 20 menit percakapan dengan pekerja dakwah kami dan menyatakan dia ingin segera bersyahadat,” kata Al-Osaimi.

Dia mengatakan, situs, yang didirikan pada bulan Maret tahun 2011 ini, telah berperan dalam mengislamkan 119 orang dari kebangsaan berbeda. Kini mereka terus menjalin kontak dengan para mualaf ini untuk melakukan bimbingan online.

Ia memprediksi, jumlahnya akan meningkat pesat, mengingat respons jamaah maya saat ini. “Setiap satu atau dua hari sekali, ada satu orang yang menerima Islam sebagai agama mereka melalui website kita,” jelasnya.

Al-Osaimi juga meminta Muslim lainnya di Barat untuk mengajar anak-anak mereka tentang Islam pada usia dini. “Itu tugas mereka untuk membawa anak-anaknya atas dasar budaya Islam dan tradisinya,” katanya.

Ia mengatakan, ia juga telah menghubungi gadis itu dan menemukan bahwa ia telah belajar banyak tentang Islam dari sumber yang berbeda.

“Dia bertanya beberapa pertanyaan yang sangat penting tentang Islam,” tambahnya. Gadis itu juga ingin belajar bahasa Arab untuk membaca dan memahami Alquran dalam bahasa aslinya.

Dia mengatakan mereka yang berkebangsaan India adalah mayoritas mualaf baru yang menyatakan keislamannya melalui website yang berbasis di Dammam, Arab Saudi ini.

Ia menjelaskan, situs dijalankan oleh 11 staf yang kesemuanya adalah relawan dan pekerja full-time. Mereka yang memeluk Islam melalui situs ini berasal dari Inggris, Perancis, Australia, Amerika Utara, Filipina, Rumania, Nigeria, dan Kamerun.

Lebih dari 90 ribu orang sejauh ini telah berpartisipasi dalam web chat room mereka. “Kami memiliki rencana untuk memperluas situs web termasuk dalam beragam bahasa,” katanya.

Source : http://islamislogic.wordpress.com/2012/12/17/belajar-islam-melalui-internet-lalu-menjadi-muallaf/