Belajar Hidup Dari Jari Jari Tangan
Dalam kehidupan ini banyak profesi yang bisa dilakukan, sebagai guru, petani, nelayan, pedagang, wartawan dan lain sebagainya. Masing-masing profesi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. 

Sayangnya, kadang kita suka membanggakan profesi kita lebih baik dari yang lain, bahkan ada yang sampai takabbur (sombong) karena berprofesi tertentu.

Padahal, Allah SWT sudah mengingatkan dalam firman-Nya yang artinya, ''Katakanlah, masing-masing kalian berbuat sesuai dengan kemampuannya.''

Rasulullah saw juga sudah mengingatkanا yang artinya, ''Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancurannya.''

Saat ini, yang terbaik adalah kita lakukan tugas dan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya. Tunjukkan prestasi kita dalam pekerjaan tersebut dan harus professional. Jangan merasa lebih baik dari orang lain.

Dialog berikut ini mungkin bisa jadi pelajaran. Suatu hari terjadi perdebatan antara jari-jari tangan. Jari jempol berkata: saya adalah jari yang paling hebat, karena kalau majikan saya mengatakan sesuatu yang bagus, sayalah yang di acung-acungkan sambil mengatakan: bagus…bagus…bagus.

Mendengar hal ini, jari telunjuk berkata: ''Siapa yang bilang jari jempol lebih hebat, sayalah yang paling hebat, kalau majikan saya menunjuk sesuatu, sayalah yang digunakan, sayalah jari yang paling terhormat.

Jari tengah angkat bicara, ''Hai kalian diam semua. Sayalah jari yang paling mulia. Lihatlah posisi saya! Di sebelah kanan, diapit jari telunjuk dan jempol dan di sebelah kiri, diapit jari manis dan kelingking. Sayalah yang paling mulia.

Jari manis tak mau kalah. Dia berucap, ''Saya dong yang paling terhormat. Coba kamu lihat, kalau majikan saya membeli cincin berlian yang harganya mahal, pasti cincin itu dipakaikan di jari manis. Tandanya, saya lah yang paling terhormat.

Jari kelingking berucap belakangan, ''Semua salah. Sayalah yang paling hebat. Walaupun bentuk saya kecil dan letaknya paling akhir, saya mempunyai fungsi yang sangat besar.'' 

Kalau hidung atau telinga majikan saya kotor, kata jari kelingkiing, ''Sayalah yang diberikan kehormatan membersihkannya. Tandanya, saya mendapat perlakukan istimewa dari majikan saya.''

Masing-masing jari berdebat, menonjolkan keistimewaan masing-masing, tak ada mau mengalah. Bila kita analisa, sifat merasa diri paling hebat, paling benar dan paling segala-galanya adalah sifat Iblis laknatullah alaih. (Allah melaknatnya).

Jauhilah sifat merasa paling baik, merasa paling hebat, merasa paling mulia dan lain sebagainya karena itu adalah sifat-sifat Iblis. Na’udzubillah.

Belajarlah dari perdebatan jari-jari tadi. Seandainya jari-jari bersatu, benda seberat apapun dengan mudah dapat terangkat. Bila jari-jari bercerai berai, benda ringan dan kecil pun tidak akan mudah diangkat.

Mudah-mudahan para pemimpin kita bisa belajar dari jari-jari tangan. Mudah-mudahan mereka mau bersatu untuk menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. 

Hanya dengan persatuan dan ukhuwah yang erat, beban yang paling berat sekalipun akan dapat diselesaikan dengan baik, semoga. Wallahu 'alam bish-shawab.

Oleh : H. Ahmad Dzaki, MA

Hikmah di Balik Kisah Nabi Khidir
Pada era kerasulan Musa, hidup seorang nabi bernama Khidir. Asal usulnya tak jelas. Ada yang mengatakan, ia merupakan keluarga Dzulqarnain, ada pula yang mengatakan, ia keturunan bangsa Persia dan Romawi. Beberapa menyebut, Khidir merupakan nama julukan dari pria kalangan biasa bernama Balya bin Malkan.

Entah siapa Khidir tersebut, sosoknya begitu misterius. Ia pun dikisahkan dalam sebuah perjalanan Musa yang penuh hal ajaib, luar biasa, dan tentunya penuh misteri.

Suatu hari, seorang dari Bani Israil menemui Musa dan kemudian bertanya, “Wahai Nabiyullah, adakah di dunia ini orang yang lebih berilmu darimu?” ujarnya. Tersentak, Nabi Musa pun jelas menjawab, “Tidak.” Tentu saja, siapa yang mampu menandingi ilmu Musa, utusan Allah kala itu. Sumber tuntunan agama dan sumber pengetahuan wahyu Allah ada di genggaman Musa. Ia memiliki Taurat dan beragam mukjizat dari-Nya.

Namun, rupanya Allah memiliki hamba lain selain Musa yang lebih berilmu. Allah pun mewahyukan pada Musa bahwa tak seorang pun di muka bumi yang mampu menguasai semua ilmu. Tak hanya Musa, di belahan bumi lain pun terdapat seorang yang memiliki ilmu luar biasa.

Ilmu itu tak dimiliki Musa sekalipun. Orang itu juga seorang nabi. Mengetahui hal tersebut, sontak Musa pun ingin berguru pada orang tersebut. Ia bersemangat ingin menuntut ilmu dan menambah pengetahuanya.

“Ya Allah, di mana orang ini bisa saya temui? Saya ingin bertemu dengannya dan belajar darinya,” tanya Musa antusias. Nabi Musa sendiri dikenal dengan keistimewaan sebagai nabi yang bisa berbicara langsung dengan Allah tanpa perlu perantara malaikat. Allah pun menunjukkan sebuah tempat di mana Musa dapat menemui orang berilmu tersebut.

Di pertemuan antara dua lautan, demikian lokasi ahli ilmu itu. Agar lebih yakin dan tak salah mengenali orang, Musa pun meminta tanda identitas orang tersebut. Allah pun memerintahkan Musa membawa seekor ikan dalam wadah berisi air. Ikan tersebut akan menunjukkan arah di mana keberadaan sang ahli ilmu Khidir.

Berangkatlah Musa menyusuri lautan, mencari keberadaan Khidir. Ia ditemani muridnya yang terkenal setia Yusya bin Nun. Yusya lah yang membawa bejana berisi ikan yang akan menghantarkan Musa pada Khidir.

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, keduanya tak juga menemukan Khidir. Meski lelah, keduanya tetap melanjutkan perjalanan. “Aku tak akan berhenti sebelum sampai ke pertemuan dua lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun,” ujar Musa pada Yusya.

Perjalanan telah jauh, tapi Khidir tak juga dijumpai. Musa pun memutuskan untuk sejenak beristirahat di sebuah batu besar di tepi sungai. Kelelahan, Musa pun tertidur. Saat Musa terlelap, Yusya melihat ikan dalam bejana tersebut meloncat keluar dari bejana ke arah sungai. Tapi, Yusya lupa mengabarkannya pada Musa. Saat Musa bangun, keduanya pun melanjutkan perjalanan tanpa ingat panduan sang ikan.

Pejalanan melelahkan keduanya hingga mereka merasa lapar. Ketika Musa menanyakan bekal untuk makan, Yusya baru teringat pada si ikan. “Saat kita istirahat di batu tadi, sungguh aku benar-benar lupa mengabarkan tentang ikan itu.

Tidaklah yang melupakanku untuk mengabarkannya padamu kecuali syaitan. Ikan itu kembali ke laut dengan cara yang aneh sekali,” ujar Yusya. Musa pun langsung mengetahui itu adalah sebuah tanda, “Itulah tempat yang kita cari,” ujar Musa bersemangat.

Lupa sudah rasa lapar tadi, keduanya pun kembali ke arah semula tempat mereka beristirahat. Sampailah mereka pada tempat yang mereka tuju dan bertemu sosok pria yang wajahnya tertutup sebagian oleh kudung. Sikapnya tegas menunjukkan kesalehannya. Pria itulah Khidir. “Bolehkah aku mengikutimu agar kau bisa mengajarkanku sebagian ilmu di antara ilmu-ilmu yang kau miliki?” ujar Musa kepada Khidir.

Apa jawab Khidir kepada Musa? “Sungguh kau tak akan sanggup untuk sabar jika bersamaku. Bagimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang itu,” kata Khidir.

Bukan Musa kalau langsung patah semangat dengan penolakan halus itu. “Insya Allah, kau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar. Aku tak akan menentangmu dalam urusan apa pun,’” ujarnya. Mendengar ketekadan hati Musa, Khidir pun akhirnya mengizinkan Musa mengikutinya. Tapi, dengan syarat, “Jika kau mengikutiku, jangan menanyakan suatu apa pun padaku sampai aku yang menerangkannya padamu,” kata Khidir.

Musa girang dapat mengikuti Khidir. Artinya, ia dapat menuntut ilmu dari Khidir. Pergilah Khidir dan Musa menumpang sebuah perahu. Tapi, ketika perahu itu hampir mendarat, Khidir melubangi perahu tersebut. Musa kaget, ia pun berkata, “Mengapa kau lubangi perahu ini. Kau akan membuat penumpang tenggelam. Kau telah melakukan sebuah kesalahan besar.”

Khidir hanya menjawab, “Bukankah aku telah berkata bahwa kau tak akan sabar bersamaku.” Musa pun teringat janjinya tak akan menanyakan apa pun. Ia pun menyesali ucapannya. “Jangan hukum aku atas lupaku dan jangan bebani aku dengan kesulitan urusan,” kata Musa.

Keduanya pun melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan, mereka berjumpa dengan seorang anak. Mengagetkan, Khidir kemudian membunuhnya. Musa yang sifatnya spontan langsung bereaksi. “Mengapa kau bunuh jiwa yang bersih? Dia tak membunuh orang lain. Sungguh, kau melakukan suatu yang mungkar,” protes Musa.

Lagi-lagi, Khidir hanya menjawab, “Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa kau sungguh tak akan sabar bersamaku?” Musa pun kembali teringat janjinya. Dia pun memendam rasa amarah sekaligus herannya atas kelakuan Khidir. “Jika setelah ini aku bertanya kembali padamu, jangan kau izinkan aku lagi mengikutimu. Sungguh, kau cukup memberiku uzur,” kata Musa.

Perjalanan keduanya dilanjutkan. Tibalah mereka di sebuah negeri. Tapi, tak ada satu pun penduduk negeri yang berkenan menjamu mereka. Lagi, Khidir melakukan perbuatan yang tak masuk akal bagi Musa. Kali ini khidir tidak melakukan perbuatan mungkar di negeri tersebut, ia justru memperbaiki dinding sebuah rumah yang hampir roboh. “Jika kau mau, kau dapat mengambil upah karena telah memperbaiki itu,” ujar Musa.

Lupa sudah Musa akan tekadnya untuk diam tak mengomentari ulah Khidir. Sesuai ucapan Musa, ia pun tak lagi mendapat pengecualian. Sudah tiga kali Musa mempertanyakan sikap Khidir. “Inilah perpisahanku denganmu,” kata Khidir.

Sebelum berpisah, Khidir pun menjelaskan maksud dibalik perbuatan yang Musa tak sabar atasnya. “Aku akan memberitahu tujuan perbuatanku. Perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut. Aku merusak perahu mereka karena mereka dihadapkan pada seorang raja yang merampas setiap perahu,” kata Khidir.

Betapa ilmu Khidir benar-benar luar biasa. Ilmu tersebut membuatnya sangat bijak. Bayangkan jika Khidir tak melubangi perahu itu, orang miskin tersebut akan kehilangan tak hanya perahu, tapi juga mata pencaharian mereka. Dengan perahu yang berlubang, raja lalim mana yang suka untuk mengambilnya.

Itu baru satu kisah. Kisah selanjutnya, Khidir menjelaskan, “Adapun anak itu, kedua orang tuanya merupakan Mukminin. Kami khawatir, dia akan mendorong kedua orang tuanya pada kesesatan dan kekafiran. Dan, kami menghendaki supaya Rabb mengganti anak lain untuk mereka yang lebih baik, suci, dan lebih sayang pada ibu bapaknya,” ujar Khidir.

Tahulah Musa bahwa ilmu yang dimiliki Khidir benar-benar luar biasa. Ia mengetahui hal misterius dan mengambil kebijaksanaan atasnya. Kisah terakhir, “Dinding rumah itu merupakan milik dua anak yatim di negeri tersebut. Di bawahnya tersimpan harta benda simpanan sang ayah untuk keduanya. Ayahnya adalah seorang yang shalih. Rabbmu menghendaki agar mereka sampai dewasa dan mengeluarkan simpanan itu sebagai rahmat Rabbmu,” jelas Khidir.

Terjawablah semua pertanyaan Musa atas sikap Khidir. Musa pun kagum dengan ilmu yang diajarkan Allah kepada Khidir. “Tidaklah aku melakukannya menurut kemauanku sendiri,” pungkas Khidir yang menunjukkan betapa dia memiliki ilmu yang luar biasa dari rahmat Allah.

Perjalanan Musa dan Khidir tersebut dikisahkan dalam Alquran surah al-Kahfi ayat 60 hingga 82. Rasulullah pun mengisahkannya dalam sebuah hadis riwayat Ubai Ibn Ka’ab yang tercantum dalam Shahih Al Bukhari. Ibnu Katsir menjelaskan kisah dengan rinci melalui hadis tersebut.

Di akhir hadis, Rasulullah bersabda, “Kami berharap, Musa dapat sabar dengan kebajikan yang mana Allah mungkin akan memberitahu kami lebih banyak tentang kisah ini. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada Musa,” sabda Rasulullah.

Adapun dalam al-kitab atau Injil Perjanjian Lama, tokoh Khidir tak disebut-sebut meski kisahnya terjadi di masa Bani Israil. Tapi, beberapa dari cendekiawan Bani Israil menganggap, Khidir merupakan Elia atau Ilyas. Beberapa mereka juga mengenal Khidir dengan sebutan St George. Dalam buku Mystical Dimensions of Islam karya Annemarie Schimmel, kisah Khidir termasuk di dalamnya dan disebut sebagai sosok yang kekal dan belum wafat hingga kini sebagaimana Nabi Isa.

Tapi, legenda mengenai kekalnya Khidir tersebut tampaknya hanyalah dongeng belaka. Ibnul Qayyim dalam kitabnya al-Manarul Munif fil Hadits-Shahih wa Dhaif menyebutkan bahwa tak ada riwayat shahih yang menyebut bahwa Khidir masih hidup.

Hikmah di Balik Kisah Nabi Khidir

Terdapat banyak hikmah dari kisah Khidir , salah satunya, yakni menuntut ilmu. Dalam Islam, menuntut ilmu merupakan perkara wajib. Tampak dalam kisah betapa Nabi Musa sangat antusias menuntut ilmu. Bahkan, meski kedudukannya saat itu merupakan nabi ia tak segan untuk terus menuntut ilmu.

Beliau bahkan bersedia menempuh perjalanan panjang demi bertemu sang guru. Beliau yang berstatus tinggi sebagai nabi, bahkan bersedia merendahkan diri dihadapan sang guru. Alasannya, karena ilmu memiliki kedudukan tinggi dalam Islam.

Allah berfirman dalam surah al-Mujadilah ayat 11, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama) beberapa derajat.” Banyak ayat yang menyatakan keutamaan ilmu dan kewajiban menuntutnya. Dalam hadis, Rasulullah pun sering mengingatkan umatnya untuk menuntut ilmu. Beliau pun menyatakan keutamaan ilmu bagi para Muslimin.

Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Abud Darda menceritakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, Allah akan mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) jannah dan sesungguhnya para malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu.

Dan, sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Allah yang di langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun untuknya. Dan, sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu. Maka, barangsiapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak.”

Menikah Kurangi Resiko Serangan Jantung
Penelitian terbaru di Finlandia menemukan pria dan wanita dua kali lebih mungkin meninggal setelah peristiwa sindrome koroner akut seperti serangan jantung jika mereka belum menikah. 

Orang yang belum menikah juga memiliki tingkat yang lebih tinggi dari ACS, dengan perbedaan yang meningkat selama masa studi 15 tahun.

"Hasil penelitian menunjukkan pernikahan mengurangi resiko penyakit koroner akut dan kematian akibat penyakit tersebut, baik pada pria atau wanita," kata ketua peneliti Dr.Aino Lamminatausta dari Turku University Hospital dikutip ABC News mengutip European Journal of Preventive Cardiology.

Menurut para peneliti, pernikahan ternyata bisa mengurangi risiko pria maupun wanita untuk terkena penyakit jantung. Penelitian lain telah menunjukkan bahwa menjadi lajang atau hidup sendiri meningkatkan risiko pengembangan dan kematian akibat penyakit jantung.

Lamminatausta mengumpulkan data lebih dari 15.300 orang yang terkena serangan jantung antara tahun 1993 dan 2002. Dari jumlah pasien tersebut 7.700 orang meninggal 28 hari pasca serangan jantung.

Para peneliti menemukan pria yang belum menikah 58 - 66 persen lebih mungkin mengalami serangan jantung dan 60 -65 persen dari wanita lajang dibandingkan dengan anggota dari pasangan yang sudah menikah.

Perbedaan risiko pada kematian akibat penyakit jantung bahkan lebih besar lagi pada kelompok orang yang menikah dan yang hidup sendiri. Untuk pria lajang, risiko kematian 28 hari pasca serangan jantung melebihi 60 persen.

Apa yang menjadi dasar perbedaan antara orang yang sudah menikah dan yang jomblo ini belum diketahui secara jelas. Beberapa alasan yang dianggap lebih mungkin adalah karena orang yang jomblo pada umumnya status kesehatannya lebih rendah. Sementara orang yang sudah menikah juga cenderung memiliki status finansial lebih mapan dan lebih banyak teman serta dukungan sosial lebih besar, yang semuanya meningkatkan status kesehatan.

Menurut Dr.Gregg Fonarow, pakar kardiologi dari Universitas California, Los Angeles alasan pernikahan dapat melindungi orang dari serangan jantung memang memerlukan studi lebih lanjut.

Lebih Bahagia lebih Irit

Sebelumnya, tahun 2012,  peneliti dari Michigan State University juga telah menemukan bahwa orang yang sudah menikah cenderung lebih bahagia selama hidup daripada orang yang belum menikah.

Studi kami menunjukkan bahwa orang rata-rata lebih bahagia daripada mereka tidak menikah," ujar Stevie C.Y. Yap, seorang peneliti dari departemen psikologi Michigan State University (MSU) sebagaimana sudah dimuat di Journal of Research in Personality.

Sementara itu, penelitian di Inggris menemukan, menikah jauh lebih irit dibanding menjomblo. Menurut riset, pasangan yang telah menikah umumnya dapat melakukan penghematan. Mereka umumnya dapat menghemat sekitar 68 Pound per bulan dan mencapai 800 Pound per tahun. 

Jayne, Kebahagian Bisa Memeluk Islam
Usai mendalami Islam pada April tahun lalu, Jayne Kemp memutuskan memeluk Islam.

Kini, petugas pendukung Kepolisian yang biasa beroperasi di Eccles, Salford, Inggris itu masih aktif berpatroli. Tapi setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, ia mulai menggenakan jilbab.

Perubahan itu memang mengejutkan banyak pihak. Namun, Jayne dengan lemah lembut coba memberikan penjelasan kepada Keluarga dan lingkungannya.

"Awalnya, aku khawatir dengan apa yang dipikirkan keluarga dan lingkungan. Tapi Alhamdulillah, mereka sangat pengertian," katanya seperti dikutip onislam.net, Jumat (1/2).

Menurut Jayne keluarga dan lingkungannya sangat mendukung apa yang diputuskannya. Bagi mereka, selama itu pilihan dan bukan paksaan, maka tidak ada masalah dengan hal itu.

"Adikku bahkan mengatakan diriku sangat bahagia, jauh lebih bahagia dengan sebelumnya," ungkapnya.

Kendati telah diterima menjadi muslim, Jayne tidak berniat memaksakan ajaran Islam kepada kedua anaknya.

"Aku serahkan putusan itu kepada mereka," sebut dia.

Populasi Muslim di Prancis Meroket
Sekularisme Prancis berikut dengan kebijakannya yang diskriminatif tidak menghalangi pertumbuhan populasi muslim.

Hal itu diakui pejabat Kementerian Dalam Negeri Prancis yang menangani masalah isu-isu agama, Bernard Godard. "Fenomena itu sangat mengesankan, terutama sejak tahun 2000," kata Godard seperti dikutip The New York Times, Senin (4/2).

Ia mengungkap jumlah warga Prancis yang memeluk Islam per tahunnya mencapai 150 orang. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat selama 25 tahun terakhir.

"Jumlah Muslim Prancis diperkirakan enam juta jiwa, sekitar 100 ribu orang di antaranya merupakan mualaf. Jumlahnya memang meningkat, coba anda lihat tahun 1986 silam, hanya ada sekitar 50 ribu mualaf," kata Godard.

Sementara itu, menurut versi asosiasi Muslim, jumlah mualaf mencapai 200 ribu orang. Asosiasi menyebutkan alasan di balik peningkatan itu ada semacam perubahan besar yang mendorong konversi tersebut. Namun, tidak dijelaskan perubahan besar apa yang dimaksud.

Di Marseille, yang dikenal sebagai kantong Muslim terbesar di Prancis, mencatat peningkatan jumlah mualaf yang luar biasa dalam tiga tahun terakhir.

Imam Masjid Besar Marseile, Ghoul Abderrahmane, mengatakan lebih dari 130 sertifikat konversi yang ditandatanganinya selama 2012.

"Saya pikir fenomena ini didorong sekularisme Prancis yang melahirkan kekosongan spiritual pada warga Prancis," katanya.

Pemuda Yaman Temukan Al-Quran Tua
Seorang pemuda asal Yaman mengklaim menemukan salinan Alquran tertua di dunia. Lelaki tidak disebutkan identitasnya ini yakin temuannya itu merupakan Alquran pertama, seperti dilansir situs berbahasa Arab Aden Gulf News.

Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Jumat (12/10/12), remaja ini berkukuh tidak akan menjual Alquran itu walau sempat ditawar Rp 537 juta. Alquran berbungkus kulit itu ditemukan di dalam gua di pegunungan Kota Dhale, sebelah selatan Yaman. Namun tidak ada penjelasan kapan kitab suci tertua umat Islam itu ditemukan.

Alquran ini terbukti asli sebagai Alquran setelah dilakukan pengujian untuk pertama kali. Pada halaman pertama di Alquran itu tertulis, “Naskah ini ditulis pada 200 Hijriah (814 Masehi)’.

Pembuktian Alquran itu memang berasal dari masa lalu terlihat dari tidak adanya titik di huruf. Penggunaan titik dalam aksara Arab baru digunakan buat membedakan bentuk huruf sama.

Pemuda ini juga menemukan pedang Zulfikar. Pedang ini dipercaya diberikan Nabi Muhammad sebagai hadiah kepada Ali bin Abi Thalib, menantu sekaligus khalifah keempat setelah Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan.

Nabi Muhammad dipercaya hidup antara tahun 570 sampai 632 Masehi. Alquran dibuat dalam bentuk kitab dan diperkenalkan kepada dunia pada masa Khalifah Usman bin Affan, 610 sampai 632 Masehi. 

Terisolasi Karena Menjadi Mualaf? Ini Solusinya
Satu tantangan terbesar seorang mualaf setelah memeluk Islam adalah terisolasi dari keluarga dan lingkungan. Kondisi itu juga didukung dengan rasa tidak nyaman dari mualaf ketika berada di lingkungan non-muslim.

Pendiri Super Muslimah Project, Amal Stapley, mengungkap situasi itu sangat wajar. Setiap mualaf butuh proses untuk merasa nyaman. “Tentu, ada sejumlah faktor yang mempengaruhi,” kata dia seperti dikutip onislam.net, Rabu (21/11/2012).

Faktor yang dimaksud mencakup dimana mualaf tinggal, dukungan masyarakat, status perkawinan, proses mualaf memeluk Islam, pemahaman dan harapan, dan kepribadian mualaf sendiri.

Menurut Amal, Allah Subhanahu Wa Ta’ala membawa setiap mualaf menuju jalur yang terbaik dengan sebelumnya memberikan semacam tes untuk mengkonfirmasi level keimanan mualaf.

“Memang tidak ada hal yang baku dalam masalah ini. Yang pasti, butuh penyesuaian dengan melihat dari kebutuhan si mualaf,” kata dia. Tetapi, Amal menyarankan kepada para mualaf beberapa poin terkait masalah tersebut.

Poin pertama, setiap mualaf harus memiliki harapan yang realistis. “Islam adalah cara hidup ideal. Tapi perlu diketahui tidak setiap muslim baik dan mungkin tidak bisa memberikan bantuan kepada para mualaf, ” kata dia.

Poin kedua, kata Amal, setiap mualaf disarankan untuk bergabung dengan komunitas mualaf. Ini dilakukan guna mempermudah mualaf berbagi pengalaman. “Kalau sulit ditemukan, coba cari via internet atau hubungi masjid terdekat. Insya Allah akan banyak informasi soal komunitas,” kata dia.

Setelah menemukan komunitas, kata dia, cobalah untuk aktif dalam setiap kegiatan. Itu juga membantu mualaf untuk lebih mendalami Islam sekaligus banyak berkenalan dengan sesama mualaf. “Ini sangat berguna dalam proses transisi yang anda alami,” ucapnya.

Poin ketiga, lanjutnya, menjadi bagian dari komunitas masjid. Mengapa demikian, sebab masjid merupakan pusat kegiatan umat Islam. Di masjid, mualaf akan menemukan berbagai komunitas muslim. “Jangan gugup atau malu. Ajaklah siapapun untuk berbicara. Bersosialisasilah. Itu akan bermanfaat bagi anda,” ucapnya.

Poin terakhir, keempat, lanjut dia, coba untuk menjaga hubungan baik dengan keluarga meski mereka non-muslim. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam misalnya, beliau memperlakukan pamannya dengan penuh cinta kasih. Meski pamannya bukan seorang muslim dan menolak Islam. “Anda tidak tahu, apa rencana Allah Subhanahu Wa Ta’ala soal mereka. Bisa jadi, satu saat mereka akan diberikan hidayah,” tuturnya.

Hal penting lainnya, kerabat atau tetangga yang non-muslim sebelumnya memiliki peran penting dalam kehidupan mualaf. Itu menjadi alasan bagi setiap mualaf untuk tetap memperlakukan mereka dengan baik.

Tentu dengan catatan, hindari permintaan apapun dari mereka yang mendorong mengingkari peringatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. “Yang anda butuhkan adalah modifikasi posisi anda,” kata dia.

Source : http://islamislogic.wordpress.com/2012/11/26/terisolasi-karena-menjadi-mualaf-ini-solusinya/

Usianya baru 18 tahun. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah kota kecil di Amerika Serikat. Berpamitan hendak berlibur dan jalan-jalan ke luar negeri, ia terbang ke Arab Saudi dan menyatakan keislamannya di negeri itu.

“Dia masih ada di sini untuk berlibur,” kata Majed Al-Osaimi, direktur http://www.edialogue.org, website dakwah yang banyak dikunjungi publik Barat yang tertarik pada Islam.

Berbicara kepada Arab News, ia mengatakan seorang remaja, yang sedang belajar di Amerika Serikat, juga menerima Islam sebagai agama baru setelah ngobrol dengan seorang daiyah yang berhubungan dengan website itu.

“Gadis itu telah memperoleh beberapa pengetahuan tentang Islam dan membersihkan semua keraguannya selama 20 menit percakapan dengan pekerja dakwah kami dan menyatakan dia ingin segera bersyahadat,” kata Al-Osaimi.

Dia mengatakan, situs, yang didirikan pada bulan Maret tahun 2011 ini, telah berperan dalam mengislamkan 119 orang dari kebangsaan berbeda. Kini mereka terus menjalin kontak dengan para mualaf ini untuk melakukan bimbingan online.

Ia memprediksi, jumlahnya akan meningkat pesat, mengingat respons jamaah maya saat ini. “Setiap satu atau dua hari sekali, ada satu orang yang menerima Islam sebagai agama mereka melalui website kita,” jelasnya.

Al-Osaimi juga meminta Muslim lainnya di Barat untuk mengajar anak-anak mereka tentang Islam pada usia dini. “Itu tugas mereka untuk membawa anak-anaknya atas dasar budaya Islam dan tradisinya,” katanya.

Ia mengatakan, ia juga telah menghubungi gadis itu dan menemukan bahwa ia telah belajar banyak tentang Islam dari sumber yang berbeda.

“Dia bertanya beberapa pertanyaan yang sangat penting tentang Islam,” tambahnya. Gadis itu juga ingin belajar bahasa Arab untuk membaca dan memahami Alquran dalam bahasa aslinya.

Dia mengatakan mereka yang berkebangsaan India adalah mayoritas mualaf baru yang menyatakan keislamannya melalui website yang berbasis di Dammam, Arab Saudi ini.

Ia menjelaskan, situs dijalankan oleh 11 staf yang kesemuanya adalah relawan dan pekerja full-time. Mereka yang memeluk Islam melalui situs ini berasal dari Inggris, Perancis, Australia, Amerika Utara, Filipina, Rumania, Nigeria, dan Kamerun.

Lebih dari 90 ribu orang sejauh ini telah berpartisipasi dalam web chat room mereka. “Kami memiliki rencana untuk memperluas situs web termasuk dalam beragam bahasa,” katanya.

Source : http://islamislogic.wordpress.com/2012/12/17/belajar-islam-melalui-internet-lalu-menjadi-muallaf/

Yahya Ayash Mengubah Batu Menjadi Peledak
Bagi warga Palestina pendukung kelompok Harakatul al-Muqawamah al-Islamiyah atau Hamas nama Yahya Ayash harum untuk dikenang. Dia menjadi inspirasi ribuan pemuda Islam, khususnya di Palestina untuk gencar melawan Israel. Dia mengubah batu menjadi bom-bom mematikan menghentikan langkah kendaraan berat Zionis.

Dilansir dari biography.com, hari ini dunia Islam memperingati terbunuhnya martir Hamas itu oleh badan intelijen Israel Shin Beth. Lelaki cerdas ini memang menjadi target cukup lama. Negeri Bintang Daud menilainya sangat berbahaya sebab otak Ayash menyimpan ribuan ide untuk mencipta senjata-senjata dan peledak rakitan bertujuan menggempur militer Israel. Secara fisik, tubuhnya kecil, pendiam, matanya tajam, dan senyumnya bijaksana. Siapapun pernah bertemu dengannya melukiskan dia sebagai pribadi rendah hati dan sederhana.

Ayash lahir di Kota Rafah pada 22 Februari 1966. Kecerdasannya menakjubkan dan membuat para pendidiknya geleng-geleng kepala. Dia menamatkan sekolah menengah atas dengan nilai nyaris sempurna. Setelah lulus, dia langsung bergabung di gerakan militer sayap kanan Hamas Brigade Izzudin al-Qassam, sembari berkuliah di Universitas Beirzeit jurusan teknik elektro.

Pecah perang Intifada pertama Palestina tidak mempunyai cadangan bom sebab jalur bantuan telah ditutup Israel. Ini membuat Ayash memutar otak untuk membuat peledak dari bahan dasar kimia bisa dibeli di apotik. Ramuannya berhasil dan bom-bom buatannya mengguncang Zionis. Awalnya Ayash bekerja sangat licin namun mata-mata Israel tersebar terlalu banyak hingga mereka mengantongi nama Ayash menjadi buronan nomor wahid harus dimusnahkan.

Empat tahun Israel mencoba mengejarnya dan Ayash terlalu licin. Mereka kehabisan akal menangkap lelaki itu. Masa pengejaran menjadi catatan gemilang perjuangan Ayash dan Hamas. Keterampilannya menghilang dari mata musuh memaksa Israel mengerahkan kekuatan mereka mulai dari tentara unit-unit militer khusus, kepolisian, tentara perbatasan, dan dinas intelijen, tapi tidak ada yang berhasil meringkusnya.

Empat tahun sudah Perdana Menteri Yitzhak Rabin saat itu menjabat memasang nama Ayash pada urutan pertama dalam file khusus orang-orang sangat berbahaya. File ini mendapat prioritas dalam program pemerintahannya. Kesepakatan terjalin setelah mereka berhasil membuat salah satu anggota Hamas membelot untuk menjadi kaki tangan memasang bom di saluran telepon pribadi Ayash.

Jumat, 5 Januari 1996, televisi Israel mengumumkan Ayash telah tewas di Beit Lahia, Jalur Gaza. Bom itu berhasil meledakkan kepalanya dan ini menjadi peristiwa paling emosional bagi Palestina dan Hamas. Meski jasadnya hancur, dia berkesempatan mewarisi generasi perakit bom selanjutnya di tubuh Brigade Izzudin al-Qassam. Peledak-peledak itu masih meluluh lantakkan militer Israel buah pemikiran Ayash.

Kini Palestina memasuki babak baru untuk menjadi sebuah negara setelah wilayah mereka diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun lalu. Namun berbagai pihak menyangsikan Israel bakal menerima keputusan itu dan tengah menghimpun kekuatan untuk kembali menggempur Palestina. Sebelas dua belas, Hamas pun tengah menumpuk peledak-peledak berbahaya jika Zionis kembali menabuh genderang perang. Seperti kata pemimpin senior Hamas Mahmud Zahar, jiwa Ayash selalu ada di setiap nyawa pejuang Palestina dan perang Intifada.