Tanyakan Dirimu, untuk Apa Saja Waktu Engkau Gunakan?
DALAM Islam, waktu itu adalah amal sholih. Waktu itu bukanlah uang seperti kata sebuah adagium, time is money. Di sini, amal sholih menjadi tujuan utama, bukan materi. Bukan berarti Islam anti-uang. Akan tetapi yang lebih tepat kita katakan, uang/materi menjadi sarana untuk beramal sholih, bukan tujuan utama (big goal). Jika uang menjadi big goal, maka materialisme menjadi pemahaman kita. Adagium “time is money”, adalah prinsip kaum materialism.

Orang yang tidak memanfaatkan waktu-waktu luangnya, oleh al-Qur’an disebut sebagai orang yang merugi.

أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَى علَى مَا فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ ﴿٥٦

“Supaya jangan ada orang yang mengatakan, ‘amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah).” (QS. Al-Zumar: 56).

Orang merugi adalah orang yang tidak memanfaatkan aktifitasnya untuk kehidupan abadi, yaitu hidup setelah mati. Betapa kita terlalu lalai memanfaatkan aktifitas mulya ini.

Berapa lama kita membaca al-Qur’an atau membaca buku-buku. Bandingkan dengan lamanya kita duduk di warung kopi dan trotoar jalan, sekedar ngobrol, ngerumpi dan menghabiskan waktu luang. Berapa jam kita menonton TV dan tidur. Bandingkan dengan lamanya kita beribadah. Berapa lama pula kita meeting bisnis, bandingkan dengan berapa lama kita duduk di majelis ilmu dan majelis-majelis mengingat Allah. Sungguh banyak waktu yang terlewat sia-sia.

Penyesalan dalam ayat tersebut karena lalai menunaikan kewajiban Allah dan memandang rendah agama Allah. Dua hal tersebut disebabkan waktu yang tidak dimanfaatkan dengan baik atau waktu luang digunakan untuk hal yang tidak baik.

Lebih berbahaya lagi jika waktu disia-siakan untuk mengerjakan perbuatan yang dimurkai-Nya. Jadi, dalam managemen waktu, ada dua pilihan; menyibukkan dengan kebenaran dan menyibukkan dengan perkara yang dimurkai. Waktu kosong yang digunakan untuk hal-hal yang tidak berguna, pada akhirnya akan mengantarkan kepada kegiatan-kegiatan yang dimurkai.

Imam al-Syafi’i pernah mengatakan: “Jika Anda tidak menyibukkan diri anda dengan kebenaran, maka ia (waktu) akan menyibukkan Anda dengan kebatilan.”

Oleh sebab itu, dalam pengisian waktu sesungguhnya terjadi pertempuran sengit antara setan dan hati kita. Hal yang paling penting untuk menjaga kehidupan kita adalah menyusun rencana-rencana dan program yang akan mengisi waktu. Dan tidak memberi sedikitpun celah kepada setan untuk ikut beraktifitas dalam sela-sela waktu kita.

Jika kebenaran yang menguasai celah-celah dalam waktu kita, maka ia akan membangkitkan potensi yang terpendam dalam diri manusia. Sebaliknya jika kebatilan jadi penguasa waktu, maka tunggulah kerusakannya.

Bagaimana belajar memangemen waktu? Bagi awam dan pelajar pemula, para ulama’ memberi petunjuk sederhana, yaitu mendisplinkan shalat tepat pada waktunya. Sesungguhnya amal ibadah yang efektif dalam mendidik disiplin waktu itu shalat jama’ah tepat pada waktunya.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً

Allah berfirman: ”Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu. Sesungguhnya shalat itu adalah fardlu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Nisa’: 103).

Disiplin shalat lima waktu bisa menjadi media pembelajaran memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Kita bisa mendidik diri atau anak dan murid kita dengan ini. Sesudah shalat, diisi dengan dizikir dan membaca al-Qur’an.

Jika kita mampu mengatur waktu ini dimulai dengan disiplin shalat, maka lambat laun ibadah-ibadah lainya akan tertunaikan dengan disiplin. Inilah yang disebut Allah sebagai orang yang tidak merugi.

Allah Subhanahu Wata’ala menyebutkan sifat-sifat orang yang beruntung, yaitu mereka yang mampu menjaga waktunya dengan beriman dan beramal sholeh.

وَالْعَصْرِ
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih serta saling menasihati supaya mentaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS: Al-‘Ashr: 1-3).

Dalam ayat ini kita bisa menarik pelajaran penting mengenai waktu. Yaitu isilah waktu itu dengan empat hal; menjaga iman, mengerjakan amal sholih, menasihati dalam kebenaran dan menasihati dalam kesabaran.

Tidaklah Iman itu akan bisa menjadi benar kecuali dengan ilmu. Karena ilmu merupakan cabang dari iman tersebut dan tidak sempurna iman seseorang kecuali jika dia memiliki ilmu. Oleh karenanya, mengisi waktu luang dengan menambah ilmu itu sangat mulia.

Amal sholeh yang mencakup semua kebaikan, mulai dari kebaikan yang bersifat dzahir hingga kebaikan yang bersifat bathin, dimana hal itu berkaitan dengan hak-hak Allah dan hak-hak hambanya baik hal-hal yang hukumnya bersifat wajib ataupun yang bersifat anjuran.

Aktifitas lain yang penting adalah saling menasehati dalam hal kebenaran dan kesabaran. Ketika sedang ngobrol dan duduk-duduk santai, alangkah baiknya digunakan dengan mengucapkan kalimat-kalimat nasihat, mendorong saudara dan teman untuk memperbaiki kualitas kehidupan. Menasehati untuk bersabar dalam menjalankan ibadah. Sabar dalam menuntut ilmu dan menghadapi tantangan kehidupan.

Dari situ kita bisa menyimpulkan bahwa waktu itu adalah amanah Allah yang diembankan kepada manusia. Kita pasti akan pasti akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

Simak sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam ini: “Tidak akan beranjak kaki seorang hamba di akhirat kecuali setelah ditanya tentang empat perkara; ditanyakan tentang umurnya lalu bagaimana ia menggunakannya dan ditanyakan kepadanya tentang ilmu yang didapatkannya lalu apa yang dilakukannya dengan ilmu tersebut, ditanyakan kepadanya tentang harta yang ia dapatkan dari mana ia mendapatkannya dan kemana harta itu dibelanjakan dan ditanyakan kepadanya tentang jasadnya lalu kemana dipergunakannya.” (HR.Tirmidzi, hadis shohih).

Pantas saja Imam Fakhruddin al-Razi begitu menghargai waktu setinggi-tingginya. Tiada celah sedikitpun ia berikan untuk hal-hal yang tidak berguna. Ia pernah mengatakan: “Demi Allah, sungguh aku sedih karena kehilangan banyak waktu kesempatan mempelajari ilmu di saat makan. Sesungguhnya waktu dan zaman itu mulya.”

Penulis adalah Peneliti InPAS Surabaya
Meraih Kedekatan dengan Rasul
MESKI jarak waktu yang tidak kurang dari 15 abad menjadi pemisah antara kehidupan kita saat ini dengan kehidupan di masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, namun beliau tidak menutup pintu dan kesempatan bagi siapa saja untuk bisa memperoleh kedudukan yang dekat dengan beliau pada hari kiamat.

Ada empat hal yang harus kita lakukan untuk meraih kedudukan yang dekat dengan beliau.

Pertama, memperbanyak membaca shalawat. Membaca shalawat kepada nabi merupakan suatu amalan yang istimewa. Keistimewaan itu nampak dengan keikutsertaan Allah dan para Malaikat-Nya untuk turut membacanya. (QS. Al-Ahzab : 56).

Dalam sabdanya, Nabi mengatakan, “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali shalawat dengan penuh ikhlas dari lubuk hatinya,” maka kata nabi ada empat keistimewaan pada orang tersebut. Yaitu, “1. Allah memberikan sepuluh rahmat 2. Mengangkat derajatnya hingga sepuluh derajat 3. Menuliskan sepuluh kebaikan untuknya 4. Menghapus sepuluh dosa keburukannya.” (HR. Bukhari, Nasa`i dan Al Bazzar).

Ketika kita banyak membaca shalawat, kans untuk mendapatkan tempat terhormat, bersanding, dan duduk di dekat Rasululah pada hari kiamat, sangat terbuka lebar. “Sesungguhnya orang yang paling terdekat (utama) kepadaku nanti pada hari kiamat adalah siapa yang paling banyak bershalawat kepadaku,” sabda Nabi yang diriwayatkan Imam Tumrudzi.

Kedua, mengasuh dan mengasihi anak-anak yatim. Berbuat baik terhadap anak yatim/piatu bukanlah sekadar turut membantu menyelesaikan lapar dan dahaga sosialnya. Tetapi, di sisi lain perbuatan itu merasuk ke dalam batin, menenteramkan hati, dan mendamaikan perasaan orang yang memberi perhatian kepada mereka.

Amalan ini melahirkan anugerah di hari akhir, yaitu tempat duduknya dekat dengan tempat duduknya Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Nabi sendiri memberikan garansi soal yang satu ini. “Aku dan orang yang mengurus anak yatim di surga bagaikan ini (beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya lalu merenggangkannya).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Inilah amalan kedua untuk membuat kavling kita di hari akhir dekat dengan kavling Baginda Nabi Muhammad Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Oleh karena itu, siapapun yang menginginkan kedudukan mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya, amalan kedua mutlak untuk diamalkan. Caranya, dengan mengasuh, mengasihi, dan memberikan perhatian serta bantuan semampu kita. Jangan menunggu pada momen-momen tertentu saja seperti bulan Muharram atau Ramadhan, namun setiap waktu kita menyempatkan diri untuk berbagi dengan mereka.

Ketiga, penguasa atau pemimpin yang adil, arif, dan bijaksana. Ketika diangkat menjadi khalifah, Sayidina Umar bin Abdul Aziz mendatangi beberapa ulama untuk meminta nasihat.

Salah satu ulama tersebut, Sayidina Hasan Al Bashri, menasihatinya seperti ini, “Anggaplah rakyat seperti ayahmu, saudaramu, dan anakmu. Berbaktilah kepada mereka seperti engkau berbakti pada ayahmu, peliharalah hubungan baik dengan mereka seperti dengan saudaramu, dan sayangilah mereka seperti engkau menyayangi anakmu.” Nasihat ini diingat dan dijalankan dengan baik oleh Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz khalifah terkenal dengan kehati-hatiannya dalam mengggunakan harta milik rakyatnya, sampai-sampai beliau pernah menutup hidung saat melintas di Baitul Maal yang kala itu sedang merebak bau harum kesturi di sana.

Seorang petugas Baitul Maal terheran-heran dan bertanya, “Wahai khalifah, kenapa engkau menutup hidungmu?” Umar bin Abdul Aziz menjawab, "Aku tak mau memakan harta rakyatku sedikit pun, walau hanya dengan menghirup harum kesturi ini.”

Oleh karenanya, harus ada kesadaran dari seorang pemimpin untuk bersikap adil dan amanat dalam menjalankan roda kepemimpinanya, tidak berat sebelah, memperlakukan masyarakat yang ia pimpin dengan sejajar, tidak timpang, dan tentunya mampu mengangkat kesejahteraan hidup mereka.

Pemimpin yang ideal berarti pemimpin yang adil. Keadilan seorang pemimpin diganjar dengan beragam jaminan. Di antaranya, ia akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat. Selain jaminan naungan, kedudukan seorang pemimpin yang bijaksana adalah memperoleh kedekatan posisi dengan Allah sekaligus Rasul-Nya. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. bersabda, “Sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan tempat duduknya dekat dengan-Nya adalah imam (pemimpin) yang adil.” (HR. Turmudzi).

Perbuatan berikutnya atau keempat yang akan membuat kita memiliki kedudukan dan posisi yang dekat dengan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam adalah mempunyai perangai mulia. Selain membaca shalawat, mengasihi anak-anak yatim, dan menjadi pemimpin yang adil, menghiasi diri dengan keluhuran akhlak dapat menjadi jembatan menuju posisi yang rapat dengan Nabi.

Nabi menegaskan dalam sebuah sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dan Ibnu Asakir. “Orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku kedudukannya di surga adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling aku benci adalah orang-orang yang pongah, sombong, dan takabur.”

Berkat akhlak yang mulia, ada seorang tawanan yang selamat dari pemenggalan. Dalam kitab Kanzul Ummal, disebutkan bahwa Rasul Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk memenggal tujuh tawanan yang berhasil ditangkap oleh pasukan Islam. Tidak lama setelah turun perintah Nabi, datanglah Malaikat Jibril menemui Rasul, lalu berkata, “Hai Muhammad, penggallah leher yang enam, tetapi jangan penggal leher kepala yang ini.”

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam bertanya, “Wahai Jibril, mengapa?” Jibril menjawab, “Ia orang yang berakhlak baik, dermawan, dan senang membagi makanan.” Rasulullah bertanya, “Hai Jibril, apakah ini datang darimu atau Tuhanmu?” Jibril berkata, “Tuhanku memerintahkan aku untuk itu.”

Islam menjadikan akhlak sebagai ukuran kesempurnaan agama seseorang. Artinya, seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mesti menunjukkan akhlak dalam kesehariannya. Baik di jalan, pada saat berkendara, di rumah, saat makan dan minum, di kantor, kampus, di mananpun, ia akan mendahulukan akhlak.

Diutusnya Nabi ke muka bumi membawa misi menyempurnakan akhlak. Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, “Ya Rasul, apakah agama itu?” Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.”

Kemudian ia mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dari sebelah kanannya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Beliau bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dari sebelah kirinya, “Apa agama itu?” Beliau menjawab, “Akhlak yang baik.”

Kemudian ia mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dari belakang dan bertanya, “Apa agama itu?” Rasululah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam menoleh kepadanya dan bersabda, “Belum jugakah engkau mengerti? (Agama itu akhlak yang baik) Sebagai missal, janganlah engkau marah.”

Momentum peringatan maulid sangat pas dijadikan ajang introspeksi diri apakah selama ini diri kita sudah benar-benar menedalani akhlak Nabi? Ataukah ada yang salah pada diri kita dalam memperingati kelahiran Nabi, sehingga kita melupakan ajaran ajaran adi luhung yang telah dipraktekkan oleh beliau selama hayatnya?

Kelahiran Nabi seharusnya tidak hanya diperingati dengan peringatan yang sekadar tradisi yang terulang di tiap musim, setiap tahun sekali. Namun ia merupakan tradisi yang diadakan sebagai alat menghidupkan ajaran nabi di rumah kita, masyarakat kita, tempat kita bekerja. Apalah artinya memperingati maulid tanpa ada keseriusan menghayati dan membumikan perangai kesantunan dalam kehidupan. Wallahu A`lam Bis Shawab.*

Pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Kota Malang
5 Calon Penghuni Neraka
MISI Rasulullah adalah memberi kabar gembira dan peringatan bagi seluruh umat manusia, tanpa terkecuali (QS. Saba’: 28). Oleh karenanya, kita menemukan sangat banyak hadits yang berisi kabar gembira seperti jaminan kemenangan Islam dan keindahan surga; atau berisi peringatan seperti pasti hancurnya kebatilan dan kengerian neraka. Sebagian hadits beliau bahkan memberikan rincian cukup detil, sehingga semakin mudah diamalkan.

Di antara rincian detil yang pernah beliau ungkapkan adalah ciri-ciri calon penghuni neraka. Dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’ie, diantaranya beliau menyebutkan sifat lima golongan yang kelak akan menjadi penghuni neraka. Mari kita teliti satu per satu, semoga kita bisa mengintrospeksi diri dan menghindarinya.

Pertama, orang lemah yang tidak berakal. Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, yang dimaksud adalah orang yang tidak memiliki akal yang bisa mencegahnya dari segala sesuatu yang tidak pantas. Dalam Mirqatul Mafatih, Mulla ‘Ali Al-Qari menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak punya keinginan selain memenuhi isi perutnya dengan segala cara, tidak perduli halal maupun haram. Keinginan terbesar mereka tidak pernah beranjak naik dari tingkatan hewani ini, baik dalam urusan agama maupun duniawinya. Perkara ini senada dengan firman Allah:

ذَلِكَ مَبْلَغُهُم مِّنَ الْعِلْمِ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَى

“Maka berpalinglah engkau (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan dia tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Najm: 30).

Kedua, pengkhianat. Teks haditsnya menjelaskan bahwa orang ini memang tidak tampak nyata sifat khianatnya, namun dia punya keinginan ke arah sana. Jika ada kesempatan, meskipun sangat kecil, niscaya dia akan berkhianat juga. Na’udzu billah. Oleh karenanya, Rasulullah pernah menyatakan bahwa satu diantara tiga tanda orang munafik adalah suka berkhianat. Allah juga pernah menyinggung sifat orang semacam ini dalam firman-Nya:

وَلاَ تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنفُسَهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ خَوَّاناً أَثِيماً
يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلاَ يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لاَ يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطاً

“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa. Mereka bisa bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bisa bersembunyi dari Allah, dan Allah beserta mereka ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa': 107-108).

Ketiga, penipu. Dalam hadits itu disebutkan: “Seseorang yang tidak memasuki waktu pagi maupun sore melainkan ia pasti menipumu, baik dalam urusan hartamu maupun keluargamu.” Tidak salah lagi, orang ini pasti penipu tulen, tembus dari permukaan kulit sampai tulang sungsumnya! Bayangkan, tidak pagi tidak sore, pekerjaannya melulu hanya menipu, menipu, dan menipu, dalam segala hal. Adakah kebaikan yang bisa diharapkan darinya? Apakah Allah bersedia mengasihi dan menghindarkan orang semacam ini dari neraka?

Keempat, pembohong atau orang pelit. Sebagian riwayat menyebut “pembohong”, sedangkan riwayat lainnya menyitir “orang pelit”. Mana pun dari keduanya yang tepat, sama saja buruknya. Dikatakan dalam sebuah hadits: “Ada tiga hal yang membuat (seseorang) binasa, yaitu sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, dan ketakjubannya pada diri sendiri.” (Riwayat al-Bazzar dan al-Baihaqi, dengan sanad hasan li-ghairihi). Adapun tentang berbohong, kita sudah diberitahu bahwa ia adalah satu diantara tiga ciri kemunafikan. Padahal, Allah telah menyatakan bahwa orang munafik kelak akan berada di kerak neraka, yakni yang paling dahsyat siksaannya (QS. an-Nisa’: 145). Na’udzu billah.

Kelima, orang yang berakhlak buruk dan banyak berkata/berbuat keji. Tidak sedikit ayat atau hadits yang menganjurkan akhlak terpuji, dan sebaliknya melarang dari akhlak tercela. Bentuknya bisa bermacam-macam, karena memang variasinya pun sangat luas. Maka, ketika menggambarkan sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Anas bin Malik berkata, “Beliau bukanlah orang yang suka mencaci, bukan orang yang suka berkata/berbuat kotor, dan bukan pula orang yang suka melaknat.” (Riwayat Bukhari).
Diceritakan pula bahwa ada seseorang yang mencela Usamah bin Zaid dengan celaan yang sangat buruk. Ketika itulah Usamah berkata, “Sungguh engkau telah menyakitiku. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwasannya Allah membenci orang yang keji dan suka berkata/berbuat keji. Dan sungguh, engkau ini orang yang keji dan suka berkata/berbuat keji.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban. Hadits hasan).

Bila logikanya kita balik, kelima sifat diatas bisa diperjelas oleh hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang apa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga? Beliau menjawab, “Ketakwaan dan akhlak yang baik.” (Riwayat al-Hakim. Menurut adz-Dzahabi: hadits shahih). Maksudnya, kelima sifat diatas seluruhnya merupakan kebalikan dari ketakwaan dan akhlak mulia, yaitu: tidak berpegang pada nilai-nilai kebajikan, suka menipu, gemar berkhianat, pembohong, pelit, dan banyak berbuat keji; sehingga buahnya pun berkebalikan dari surga, yaitu neraka. Semoga Allah membimbing kita semua untuk menjauhinya. Amin. Wallahu a’lam
Masuk Islam  Diego Mendapat Dukungan Orang Tua
Keputusan Diego Michiels memeluk agama Islam mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. Diego mengaku mengutarakan keinginannya itu sekitar sebulan lalu.

"Saya sudah berbicara pada orang tua sekitar sebulan lalu, dan mereka mengizinkan," kata Diego di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (7/2).

Sebelumnya Diego menampik jika keputusannya menjadi mualaf untuk memuluskan jalan menikahi kekasihnya, pesinetron Nikita Willy.

"Bukan karena kekasih saya Islam," kata Diego.

Ia mengatakan, ajaran Islam sudah lama ia kenal semenjak dirinya masih berstatus warga negara Belanda.

"Sebelum saya ke Indonesia saya sering bermain bersama teman saya yang Islam, lalu saya mulai mempelajari buku dan akhirnya saya sekarang memutuskan masuk Islam," ucap Diego yang mengenakan peci warna putih.

Diego pun mengaku bahagia bisa mewujudkan keinginannya itu.

"Saya senang sekarang," ujarnya sambil tersenyum bahagia.
Tinggi dengan Bertawadhu'
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ ـــــ أبو نعيم

Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam bersabda, yang artinya,”Barang siapa bertawadhu karena Allah maka Allah meninggikannya”. (Riwayat Abu Nu’aim, dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthi)

Mengenai hakikat tawadhu’ Imam Hasan Al Bashri menyampaikan,”Yakni ketika seseorang kaluar dari rumahnya, maka ia tidak bertemu seorang Muslim pun kecuali ia menyangka bahwa ia (yang dijumpai itu-pent.) lebih baik dari dirinya sendiri (Az Zuhd karya Imam Ahmad, hal. 298).

Imam Al Ghazali menyampaikan mengenai tawadhu lebih terperinci, beliau berpesan,”Jika engkau melihat anak kecil, katakanlah dalam hatimu, 'Ia belum pernah bermaksiat kepada Allah. Sedangkan aku telah bermaksiat. Tidak diragukan lagi bahwa ia lebih baik dariku.' Jika engkau melihat orang yang lebih tua katakanlah,’Orang ini telah beribadah sebelum aku melakukannya. Tidak diragukan lagi bahwa ia lebih baik dariku.’ Jika melihat orang alim (pandai), katakan,’Orang ini telah memperoleh apa yang belum aku peroleh. Maka, bagaimana aku setara dengannya.’Jika dia bodoh, katakan dalam hatimu,’Orang ini bermaksiat dalam kebodohan, sedangkan aku bermaksiat dalam keadaan tahu. Maka, hujjah Allah terhadap diriku lebih kuat, dan aku tidak tahu bagaimana akhir hidupnya dan akhir hidupku.’ Jika orang itu kafir, katakan,’Aku tidak tahu, bisa saja dia menjadi Muslim dan akhir hidupnya ditututup dengan amalan yang baik dan dengan keislamannya dosanya diampuni. Sedangkan aku, dan aku berlindung kepada Allah dari hal ini, bisa saja Allah menyesatkanku, hingga aku kufur dan menutup usia dengan amalan keburukan. Sehingga ia kelak termasuk mereka yang dekat dengan rahmat sedangkan aku jauh darinya.’” (Maraqi Al Ubudiyah, hal.79)

Merujuk dari Ibnu Al Athaillah, Al Allamah Al Munawi menyampaikan bahwa tawadhu’ hakiki adalah tawadhu’ yang timbul dari persaksian akan kebesaran Allah. Sehingga, tawadhu kepada manusia dengan berkeyakinan bahwa dirinya besar, maka hal itu bukanlah tawadhu’, namun serupa dengan takabur (Faidh Al Qadir, 6/141).

Walhasil, barang siapa menginginkan diangkat oleh Allah maka hendaknya ia bertawadhu’. Dan derajat ketinggian menyesuaikan dengan kadar perendahan hamba.
Hari Hijab Dunia Diperingati Setiap 1 Februari
Untuk kali pertama, Hari Jilbab Dunia diperingati, Jumat (1 Februari 2013)

NEW YORK – Hari Jibab dunia dicetuskan Muslimah New York, Nazma Khan. Ia melihat jilbab bisa menjadi simbol toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

Selain itu, peringatan ini diharapkan pula mendorong pemahaman yang lebih baik tentang Islam dan Muslim.

“Tumbuh di Bronx, aku mengalami diskriminasi karena jilbab. Waktu itu aku sering dianggap seperti batman atau ninja,” katanya seperti dikutip onislam.net, Jumat (1/2).

Dari masa lalunya itu, ia tergerak untuk membuat satu kegiatan yang mempromosikan jilbab. Beruntung, gagasannya disambut baik perempuan di seluruh dunia.

Nazma Khan Sosok dibalik Hari Hijab Sedunia

Seorang perempuan asal New York, Amerika Serikat, Nazma Khan, melakukan kampanye melawan stigma negatif hijab (jilbab). Ide Hari Hijab Sedunia pada 1 Februari pun menggema melalui situs jejaring sosial dan menjalar ke 50 negara di seluruh dunia.

Muslimah berjilbab masih dianggap aneh di negara-negara Barat. Dituding Osama bin Laden-lah, teroris-lah, kuno, simbol penindasan pria terhadap perempuan muslim, simbol diskriminasi, dan sejuta tuduhan negatif lain. Semua tuduhan itu membuat Nazma Khan prihatin.

Apalagi pengaruhnya secara psikologis sangat buruk terhadap umat Islam di dunia. Karena itu, dia pun merintis gerakan memakai hijab bagi semua perempuan di dunia, baik muslim maupun non-muslim. Bagi non-muslim, ide ini menarik sebab menjadi semacam petualangan dalam berbusana yang juga bernuansa spiritual. Juga sebagai seruan toleransi.

Maka, pada Hari Hijab Sedunia, mereka pun mengenakan jilbab secara massal di sejumlah kota sebagai bagian dari upaya memahami pilihan para muslimah. Dan Nazma Khan sendiri mengalami betapa pahit hidup di lingkungan yang tak ada toleransi.

“Tumbuh di Bronx, New York, saya mengalami diskriminasi yang besar karena hijab saya,” kata Khan di sela-sela aksinya memperinhati Hari Hijab Sedunia pertama, Jumat kemarin. Perempuan ini pindah ke New York dari Bangladesh pada usia 11 tahun. Dia merupakan satu satunya Hijabi (istilah untuk pemakai jilbab) di sekolahnya.

Di sejumlah negara dengan mayoritas muslim, kata dia, jilbab banyak dijual di pasaran. Tapi tidak di New York. Memakai jilbab diolok-olok sebagai ninja atau Batman. “Ya, di sekolah menengah saya, itu merupakan Batman atau ninja,” katanya.

Khan masuk kuliah tak lama setelah peristiwa 9/11. Setelah itu kebencian terhadap dirinya bertambah. Dan semua itu hanya karena dia berjilbab.

“Mereka memanggil saya Osama Bin Laden atau teroris. Itu sangat mengerikan. Saya berpikir satu-satunya cara untuk mengakhiri diskriminasi ini adalah jika kita meminta rekan kita untuk merasakan sendiri pengalaman berhijab,” katanya.

Dia pun menyerukan, bahwa dirinya seorang muslimah. Bukan Batman atau ninja. Apalagi teroris. “Ayo mencoba merasakan berjilbab,” katanya.

Dan Khan tidak menyangka bila akhirnya aksi itu mendapat dukungan dari berbagai negara. Dia pun kebanjiran telepon dari berbagai belahan dunia. Dia dihubungi oleh puluhan orang dari berbagai negeri termasuk Inggris, Australia, India, Pakistan, Prancis, dan Jerman. “Informasi mengenai kelompok ini telah diterjemahkan ke dalam 22 bahasa,” katanya.

Sempat Takut

Esther Dale (28), yang tinggal di negara bagian California, AS, misalnya. Dia merupakan perempuan non-muslim yang mencoba menggunakan jilbab pada Jumat kemarin. Ibu tiga anak ini diberitahu oleh seorang temannya yang merupakan seorang hijabi. Dan rasanya, dia nyaman berjilbab.

Sebagai penganut Mormon, Dale paham pentingnya keyakinan dalam kehidupan sehari-hari. Dia juga merasakan tuduhan yang didapat hanya karena pakaian yang dikenakan. Dia mengetahui stigma terhadap penutup kepala dan berharap pula dalam kesempatan ini dapat digunakan untuk menghapusnya.

“Saya mengetahui mengenai kesantunan dalam perilaku, tidak hanya pakaian, dan ini hanya merupakan asumsi yang salah bahwa perempuan menggunakannya jika mereka dipaksa – terutama di AS. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk mendidik orang bahwa Anda tidak dapat memberikan tuduhan yang akurat mengenai seseorang berdasarkan apa yang mereka kenakan,” kata Dale.

Esther Dale mengungkap masih ada yang disalahpahami dari jilbab. Padahal, jilbab itu mencerminkan kesopanan. Artinya, salah bila perempuan memakainya karena terpaksa. “Itu sama sekali tidak benar,” kata dia seperti dikutip onislam.net, Jumat (1/2).

Lain Dale, lain pula Jess Rhodes. Wanita asal Inggris ini juga ambil bagian dalam acara tersebut. Ia memutuskan ikut setelah mengetahui acara itu melalui internet. Bahkan dia sudah berjilbab selama 8 hari dan akan terus mengenakan hijab selama satu bulan.

“Jujur, aku tidak begitu tahu bagaimana mengenakannya, tapi ini merupakan hal menarik, karena terkait pilihan hidup seorang muslimah,” kata Jess yang saat ini tercatat sebagai seorang mahasiswi.

Jess mengatakan orang tuanya sempat terkejut dengan apa yang dilakukannya. Namun, dia coba jelaskan apa tujuannya. “Reaksi orang tua, ehm, sedikit terkejut. Wajar memang, tapi setelah dijelaskan mereka akhirnya mengerti,” katanya.

Menurut Jess, reaksi orang tuanya mencerminkan kondisi nyata dari pandangan masyarakat Inggris terhadap jilbab. Karena itulah dia semakin termotivasi untuk ambil bagian dalam Hari Hijab Sedunia. “Mereka khawatir saya akan diserang di jalanan karena adanya kesenjangan toleransi,” katanya.

Dia juga sempat khawatir dengan reaksi ini, tetapi setelah delapan hari menggunakan jilbab dia terkejut dengan situasi positif yang dialaminya. “Saya tidak dapat menjelaskan tetapi orang-orang sangat membantu, terutama di toko-toko,” kata dia.




Widyan Al Ubudy, wanita asal Australia, merupakan pihak yang menginformasikan acara tersebut kepada Jess. Baginya, sangat penting bagi perempuan non-muslim ambil bagian dalam acara ini. Sebab, melalui mereka, kesalahpahaman dapat diluruskan. “Saya tidak terlatih menggunakan apa yang Anda sebut sebagai jilbab. Anda tinggal memasukkannya ke kepala Anda. Tetapi saya menemukan bahwa jangkauannya sangat luas, ” kata mahasiswi dari Norwich Inggris ini. (bbc/wis/rol)

Source : http://islamislogic.wordpress.com/2013/02/07/hari-jilbab-dunia-diperingati-setiap-1-februari/
Swiss Mempersilakan Wanita Muslim Memakai Cadar
Anggota parlemen Swiss sepakat menolak larangan penggunaan cadar bagi perempuan muslim, termasuk di tempat umum. Mereka menilai itu bukan masalah besar.

Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Jumat (28/9/12), Hugues Hiltpold dari Partai Demokrat Swiss bersikeras pemakaian jenis busana itu tidak menimbulkan masalah nyata di kehidupan sehari-hari. “Itu alasan agama, hanya tidak umum di komunitas muslim Swiss,” ujarnya pada Dewan Nasional.

Hugues mengatakan larangan penggunaan cadar dan pakaian tertutup bagi perempuan muslim, tindakan berlebihan dan bisa berdampak negatif pada pariwisata negara itu. Umat Islam ingin berkunjung bisa jadi membatalkan perjalanannya.

Secara umum, pemerintah tidak melarang, namun pada prakteknya diserahkan ke wilayah masing-masing.

Tahun lalu, di tempat sama, larangan itu justru didukung sejumlah besar anggota parlemen. Larangan itu diajukan Partai Sayap Kanan Swiss (SVP).
Nabi Muhammad bukan pedofilia, Aisyah saat itu 17 Tahun
Selama ini, kaum orientalis dan kaifr pembenci Islam kerap mengolok Nabi Muhammad seorang pedofilia karena mengawini Aisyah, bocah perempuan berusia sembilan tahun. Namun, ejekan itu kini terbantahkan.

Ulama Pakistan, Hakim Niyaz Ahmad, dalam bukunya Kebenaran Usia Aisyah Benar, menegaskan Aisyah telah berumur 19 tahun ketika menikah dengan Rasulullah.

“Kebanyakan sumber, terutama Abu Naim al-Isfahani, mengatakan Asma 27 tahun ketika pindah ke Madinah. Artinya, Aisyah saat itu setidaknya berusia 17 tahun,” tulis Hakim, seperti dilansir Bikyamasr.com, Sabtu (8/12/12).

Asma merupakan kakak dari Aisyah. Fakta ini sekaligus menggugurkan hadis-hadis yang menyebut Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad ketika berusia sembilan tahun, seperti diriwayatkan Hisyam Urwa.

Menurut Hakim, penuturan Hisyam tidak bisa lagi dipercaya karena ketika itu dia sudah berusia 84 tahun. Kebanyakan dari sumber hadis Hisyam sudah meninggal sehingga sulit buat membuktikan ucapannya itu.

Dari hasil penelusuran pelbagai dokumen agama dan sejarah, Hakim menyimpulkan Aisyah memang sudah menginjak usia siap menikah.

Dia menjelaskan sebelum menikah dengan nabi, Aisyah sudah bertunangan dengan Jubair bin Mutam. Keluarga calon mempelai lelaki itu kemudian tidak terima setelah calon menantu mereka masuk Islam.

Sang ayah, Abu Bakar, lantas berunding dengan keluarga Jubair. Dia ingin memutus ikatan pertunangan antara Aisyah dan Jubair. Perundingan berjalan mulus, Aisyah dan Jubair putus hubungan. Selepas itu, baru Nabi Muhammad melamar Aisyah.

Membedakan Kesenangan dan Ketenangan
Manusia hidup di dunia umumnya pasti mendamba kesenangan. Bermacam usaha yang dilakukan manusia tujuannya tidak lain adalah agar memperoleh kesenangan hidup itu. Persoalannya, apakah kesenangan hidup otomatis mendatangkan ketenangan hidup?

Islam membedakan antara kesenangan dan ketenangan. Buktinya banyak orang hidup senang tetapi justru tidak tenang. Jika meminjam pendapat Imam Ghazali dalam Al-Munqidz min Al-Dhalal, ada empat faktor yang menjadi sumber kesenangan.

Pertama, ilmu pengetahuan. Terlebih di zaman modern ini, orang berilmu berpeluang lebih besar mendapat kesenangan ketimbang orang bodoh. Contohnya, yang bergelar sarjana lebih mudah mendapat pekerjaan mapan daripada yang tidak bergelar.

Kedua, kesehatan. Pasti tidak ada orang yang ingin sakit. Sehat membuat hidup menyenangkan, sakit membuat hidup menggelisahkan. Saat sakit, kita tidak boleh makan sembarangan. Semakin kompleks penyakitnya, semakin banyak pula pantangannya. Juga kita tidak bebas melakukan apa saja seperti ketika sehat.

Ketiga, kekayaan. Orang bekerja, sampai menghalalkan segala cara, maksudnya adalah supaya segera kaya. Orang kaya lebih berpeluang untuk senang ketimbang orang miskin. Dengan harta, orang mudah membeli apa saja, rekreasi kemana saja, bahkan berangkat haji ke Tanah Suci.

Keempat, kesenangan bersumber dari jabatan. Jabatan menjadi jaminan kemudahan-kemudahan dalam hidup. Orang yang punya jabatan tinggi juga lebih dihormati ketimbang orang rendahan. Jabatan membuat hidup jadi mentereng, dan karenanya, menjadi sumber kesenangan.

Persoalannya, punya empat hal itu pasti menjamin hidup kita tenang dan tentram? Tidak. Empat hal di atas belum cukup untuk mendatangkan ketenangan. Ketenangan baru didapat ketika kita punya yang kelima, yaitu hubungan baik dengan Allah.

Batin yang terhubung dengan Allah inilah yang membuat hidup jadi tenang, tenteram. Dan sarana untuk membuat kita connect dengan Allah adalah ibadah. Ibadah secara ikhlas, benar, istiqamah akan menjadi sumber ketenangan. “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (Ar-Ra'du: 28).

Ibadah juga potensial menghalangi kita dari dosa (Al-Ankabut: 45), membersihkan jiwa kita (At-Taubah: 103). Dengan aktif beribadah, hidup kita terbimbing. Selalu merasa kehadiran Allah. Tidak sombong saat mendapat nikmat, tidak putus asa ketika ditimpa musibah.

Sebagai Mukmin, tidak salah kita mendapat ilmu pengetahuan, kesehatan, kekayaan, dan jabatan. Tapi itu semua harus kita topang dengan ibadah. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat kesenangan sekaligus ketenangan. Kesenangan plus ketenangan itulah kebahagiaan.

Oleh : M Husnaini