SIAPA saja yang mau menelaah Al-Qur’an secara jeli, pasti akan menemukan peringatan Allah Subhanahu Wata’ala tentang “kebencian” dan “ketakutan” kaum kafir terhadap Islam (islamophobia). Bentuk kebencian ini tidak akan pernah berakhir dan akan terus berulang dan berulang hingga yaumul qiyamah. Kebencian itu begitu mendalam. Sebagaimana saat ini, ketika Islam saat ini benar-benar menjadi bulan-bulanan mereka. Islam “diserang” dari berbagai sudut dan dari segala penjuru.
Islamophobia itu sudah diramalkan oleh Rasulullah sejak beliau masih hidup. Umat Islam memang akan menjadi sasaran yang tak habis-habisan.
Rasulullah meramalkan, “Hampir tiba saatnya persatuan bangsa-bangsa memperebutkan atas kamu sekalian sebagaimana bersatunya orang-orang yang berebut makanan yang ada dalam nampan. Seorang sahabat bertanya Apakah karena sedikitnya jumlah kita pada sa'at itu Ya Rasulullah? Beliau bersabda: “Bahkan jumlah kalian saat itu sangat banyak, tetapi kalian bagaikan buih yang mengalir diatas lautan. Dan sungguh Allah Swt akan mencabut dari dada musuh–musuh kalian rasa takut terhadap kalian. Serta dia akan memunculkan penyakit al-wahnu dalam hati kalian. Seorang sahabat bertanya: “Ya Rasulullah apakah al-wahnu itu? Beliau menjawab, “Terlalu cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud, hadis Shahih: 4297).
Jika kita renungkan sabda Nabi di atas, akan jelas bahwa penyakit kebencian kepada Islam bukan saja memang sifat dasar mereka yang iri kepada agama yang mulia ini, tetapi juga karena penyakit yang diidap oleh kaum Muslimin sendiri. Penyakit itu namanya al-wahn, kata Rasulullah saw. “Terlalu cinta kepada dunia dan (akhirnya) takut mati.”
Bukti dari kronisnya penyakit al-wahn ini tampak dari perilaku umat Islam yang semakin hari semakin hedonis. Para pemimpin hidupnya begitu glamor. Zuhud tidak menjadi kamus sehari-hari. Sekali hidup, puas-puaskan lah menikmati dunia dan menumpuk harta-kekayaan. Maka wajar banyak pemimpin yang nota-bene Muslim tidak punya ‘gigi’ ketika berhadapan dengan kepentingan dan kebijakan Barat.
Padahal, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia. Ia hanya sikap memenej duniawi agar berada di tangan, bukan masuk ke dalam hati. Kalau sudah merasuk ke dalam hati, amat sulit untuk keluar. Itu yang menyebabkan banyak dari kita akhirnya “takut mati”, karena sudah menganggap dunia ini segala-galanya. Kondisi ini lah yang dijadikan sasaran empuk orang-orang yang sudah lama memendam benci terhadap Islam. Karena mereka tahu benar umat Islam sangat lemah di hadapan glamor duniawi.
Akibat terjangkitnya penyakit al-wahn itu, membuat musuh-musuh Islam tak lagi gentar berhadapan dengan kaum Muslim. Wibawa umat begitu hancur: luluh-lantakkan di hadapan hegemoni pemikiran, budaya, dan kepentingan mereka.
Dari Chechnya, Iraq, Libya, sampai Palestina, umat Islam seolah menjadi buruan. Alasannya sederhana: Iraq tidak demokratis, Chechnya memberontak, Libya presidennya otoriter dan Palestina dihuni “teroris” dan membahayakan kepentingan Israel dan Amerika. Padahal alasan dasar sesungguhnya bukanlah itu. Yang benar, “Umat Islam memang harus dilenyapkan. Karena ajarannya menjadi batu sandungan kepentingan ideology lain, termasuk kepentingan Barat.”
Apakah pengalaman mahal belum bisa sadarkah kita akan kondisi ini?
Masih kah kita dininah-bobokkan oleh angan-angan tak berujung. Padahal dari kanan-kiri dan atas-bawah musuh Islam sudah merangsek masuk. Masuk ke jantung pertahanan umat Islam, hati. Hati kita dihabisi oleh dunia, yang perangkatnya dilahirkan dan disebarkan oleh Barat. Tapi sedikit dari kita yang menyadarinya. Memilukan sekaligus memilukan. Ironis, tapi realitas.
Kapan Mereka berhenti memerangi umat Islam? Tidak akan berhenti, kata Allah. jangan percaya kepada kata-kata manis mereka. Mereka hanya pintar ‘menanam tebu di bibir’. Untaian dan rajutan kata-kata mereka tak lebih dari lips service. Mereka pendusta. Di belakangnya banyak kepentingan. Jauh-jauh hari Allah sudah mengingatkan kita,
وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ
“Kaum Yahudi dan Kristen tidak akan pernah ridha terhadap kalian, sampai kalian mau mengikuti millah mereka.” (Qs. al-Baqarah (2): 120).
Millah bukan hanya dimaknai sebagai “agama”. Ia adalah cara pandang (mindset), pandangan-hidup (worldview), budaya dan tradisi. Mereka bermimpi kalau ingin mengeluarkan kaum Muslimin dari Islam. Oleh karena itu, mereka mencoba minimal orang-orang Islam – meski tetap dalam agamanya – berprilaku tidak Islam. Ini yang paling penting. Dan sepertinya, di sini, mereka sudah meraup hasil.
Allah juga sudah mengingatkan kita dalam Firman-Nya, “Mereka akan terus memerangi kalian, sampai murtad dari agama kalian, jika mereka mampu melakukannya…” (Qs. al-Baqarah (2): 217).
Siang dan malam mereka memikirkan agar agama ini hancur. Begitu lah kegigihan mereka. Maka jangan mimpi mereka akan berhenti memerangi agama ini. Karenanya umat Islam harus bangkit dan berpikir lebih cerdas. Kaum Muslim harus bangun dan sadar dari “mabuknya”, agar dapat melihat dunia dengan nyata, bukan dalam alam mimpi.
Kasus film The Innocence of Muslims dan Kartun Nabi, hanyalah bukti kecil dari sekian panjang rantai pekerjaan mereka terhadap Islam. Dan yang penting dicatat bahwa rantai penistaan dan hujatan terhadap Islam, Al-Qur’an dan Allah tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun.
Maka, kata yang pantas untuk kita semua adalah; jangan ada lagi istilah dan kamus “istirahat” bagi siapa saja yang mengaku sebagai Muslim dan Mukmin untuk mendakwahkan Islam. Jika orang lain tidak pernah istirahat “memikirkan” kita, maka apakah pantas kita mengaku lelah, cape –apalagi-- cuek terhadap keadaan dan tantangan. Fa’tabiru ya ulil albab!. Qosim Nursheha Dzulhadi, penulis buku “Lezatnya Menuntut Ilmu: Begini Seharusnya Anda Menuntut Ilmu”. Mengajar di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan
Islamophobia itu sudah diramalkan oleh Rasulullah sejak beliau masih hidup. Umat Islam memang akan menjadi sasaran yang tak habis-habisan.
Rasulullah meramalkan, “Hampir tiba saatnya persatuan bangsa-bangsa memperebutkan atas kamu sekalian sebagaimana bersatunya orang-orang yang berebut makanan yang ada dalam nampan. Seorang sahabat bertanya Apakah karena sedikitnya jumlah kita pada sa'at itu Ya Rasulullah? Beliau bersabda: “Bahkan jumlah kalian saat itu sangat banyak, tetapi kalian bagaikan buih yang mengalir diatas lautan. Dan sungguh Allah Swt akan mencabut dari dada musuh–musuh kalian rasa takut terhadap kalian. Serta dia akan memunculkan penyakit al-wahnu dalam hati kalian. Seorang sahabat bertanya: “Ya Rasulullah apakah al-wahnu itu? Beliau menjawab, “Terlalu cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud, hadis Shahih: 4297).
Jika kita renungkan sabda Nabi di atas, akan jelas bahwa penyakit kebencian kepada Islam bukan saja memang sifat dasar mereka yang iri kepada agama yang mulia ini, tetapi juga karena penyakit yang diidap oleh kaum Muslimin sendiri. Penyakit itu namanya al-wahn, kata Rasulullah saw. “Terlalu cinta kepada dunia dan (akhirnya) takut mati.”
Bukti dari kronisnya penyakit al-wahn ini tampak dari perilaku umat Islam yang semakin hari semakin hedonis. Para pemimpin hidupnya begitu glamor. Zuhud tidak menjadi kamus sehari-hari. Sekali hidup, puas-puaskan lah menikmati dunia dan menumpuk harta-kekayaan. Maka wajar banyak pemimpin yang nota-bene Muslim tidak punya ‘gigi’ ketika berhadapan dengan kepentingan dan kebijakan Barat.
Padahal, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia. Ia hanya sikap memenej duniawi agar berada di tangan, bukan masuk ke dalam hati. Kalau sudah merasuk ke dalam hati, amat sulit untuk keluar. Itu yang menyebabkan banyak dari kita akhirnya “takut mati”, karena sudah menganggap dunia ini segala-galanya. Kondisi ini lah yang dijadikan sasaran empuk orang-orang yang sudah lama memendam benci terhadap Islam. Karena mereka tahu benar umat Islam sangat lemah di hadapan glamor duniawi.
Akibat terjangkitnya penyakit al-wahn itu, membuat musuh-musuh Islam tak lagi gentar berhadapan dengan kaum Muslim. Wibawa umat begitu hancur: luluh-lantakkan di hadapan hegemoni pemikiran, budaya, dan kepentingan mereka.
Dari Chechnya, Iraq, Libya, sampai Palestina, umat Islam seolah menjadi buruan. Alasannya sederhana: Iraq tidak demokratis, Chechnya memberontak, Libya presidennya otoriter dan Palestina dihuni “teroris” dan membahayakan kepentingan Israel dan Amerika. Padahal alasan dasar sesungguhnya bukanlah itu. Yang benar, “Umat Islam memang harus dilenyapkan. Karena ajarannya menjadi batu sandungan kepentingan ideology lain, termasuk kepentingan Barat.”
Apakah pengalaman mahal belum bisa sadarkah kita akan kondisi ini?
Masih kah kita dininah-bobokkan oleh angan-angan tak berujung. Padahal dari kanan-kiri dan atas-bawah musuh Islam sudah merangsek masuk. Masuk ke jantung pertahanan umat Islam, hati. Hati kita dihabisi oleh dunia, yang perangkatnya dilahirkan dan disebarkan oleh Barat. Tapi sedikit dari kita yang menyadarinya. Memilukan sekaligus memilukan. Ironis, tapi realitas.
Kapan Mereka berhenti memerangi umat Islam? Tidak akan berhenti, kata Allah. jangan percaya kepada kata-kata manis mereka. Mereka hanya pintar ‘menanam tebu di bibir’. Untaian dan rajutan kata-kata mereka tak lebih dari lips service. Mereka pendusta. Di belakangnya banyak kepentingan. Jauh-jauh hari Allah sudah mengingatkan kita,
وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ
“Kaum Yahudi dan Kristen tidak akan pernah ridha terhadap kalian, sampai kalian mau mengikuti millah mereka.” (Qs. al-Baqarah (2): 120).
Millah bukan hanya dimaknai sebagai “agama”. Ia adalah cara pandang (mindset), pandangan-hidup (worldview), budaya dan tradisi. Mereka bermimpi kalau ingin mengeluarkan kaum Muslimin dari Islam. Oleh karena itu, mereka mencoba minimal orang-orang Islam – meski tetap dalam agamanya – berprilaku tidak Islam. Ini yang paling penting. Dan sepertinya, di sini, mereka sudah meraup hasil.
Allah juga sudah mengingatkan kita dalam Firman-Nya, “Mereka akan terus memerangi kalian, sampai murtad dari agama kalian, jika mereka mampu melakukannya…” (Qs. al-Baqarah (2): 217).
Siang dan malam mereka memikirkan agar agama ini hancur. Begitu lah kegigihan mereka. Maka jangan mimpi mereka akan berhenti memerangi agama ini. Karenanya umat Islam harus bangkit dan berpikir lebih cerdas. Kaum Muslim harus bangun dan sadar dari “mabuknya”, agar dapat melihat dunia dengan nyata, bukan dalam alam mimpi.
Kasus film The Innocence of Muslims dan Kartun Nabi, hanyalah bukti kecil dari sekian panjang rantai pekerjaan mereka terhadap Islam. Dan yang penting dicatat bahwa rantai penistaan dan hujatan terhadap Islam, Al-Qur’an dan Allah tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun.
Maka, kata yang pantas untuk kita semua adalah; jangan ada lagi istilah dan kamus “istirahat” bagi siapa saja yang mengaku sebagai Muslim dan Mukmin untuk mendakwahkan Islam. Jika orang lain tidak pernah istirahat “memikirkan” kita, maka apakah pantas kita mengaku lelah, cape –apalagi-- cuek terhadap keadaan dan tantangan. Fa’tabiru ya ulil albab!. Qosim Nursheha Dzulhadi, penulis buku “Lezatnya Menuntut Ilmu: Begini Seharusnya Anda Menuntut Ilmu”. Mengajar di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan
MESKI jarak waktu yang tidak kurang dari 15 abad menjadi pemisah antara kehidupan kita saat ini dengan kehidupan di masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, namun beliau tidak menutup pintu dan kesempatan bagi siapa saja untuk bisa memperoleh kedudukan yang dekat dengan beliau pada hari kiamat.
Ada empat hal yang harus kita lakukan untuk meraih kedudukan yang dekat dengan beliau.
Pertama, memperbanyak membaca shalawat. Membaca shalawat kepada nabi merupakan suatu amalan yang istimewa. Keistimewaan itu nampak dengan keikutsertaan Allah dan para Malaikat-Nya untuk turut membacanya. (QS. Al-Ahzab : 56).
Dalam sabdanya, Nabi mengatakan, “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali shalawat dengan penuh ikhlas dari lubuk hatinya,” maka kata nabi ada empat keistimewaan pada orang tersebut. Yaitu, “1. Allah memberikan sepuluh rahmat 2. Mengangkat derajatnya hingga sepuluh derajat 3. Menuliskan sepuluh kebaikan untuknya 4. Menghapus sepuluh dosa keburukannya.” (HR. Bukhari, Nasa`i dan Al Bazzar).
Ketika kita banyak membaca shalawat, kans untuk mendapatkan tempat terhormat, bersanding, dan duduk di dekat Rasululah pada hari kiamat, sangat terbuka lebar. “Sesungguhnya orang yang paling terdekat (utama) kepadaku nanti pada hari kiamat adalah siapa yang paling banyak bershalawat kepadaku,” sabda Nabi yang diriwayatkan Imam Tumrudzi.
Kedua, mengasuh dan mengasihi anak-anak yatim. Berbuat baik terhadap anak yatim/piatu bukanlah sekadar turut membantu menyelesaikan lapar dan dahaga sosialnya. Tetapi, di sisi lain perbuatan itu merasuk ke dalam batin, menenteramkan hati, dan mendamaikan perasaan orang yang memberi perhatian kepada mereka.
Amalan ini melahirkan anugerah di hari akhir, yaitu tempat duduknya dekat dengan tempat duduknya Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Nabi sendiri memberikan garansi soal yang satu ini. “Aku dan orang yang mengurus anak yatim di surga bagaikan ini (beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya lalu merenggangkannya).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Inilah amalan kedua untuk membuat kavling kita di hari akhir dekat dengan kavling Baginda Nabi Muhammad Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Oleh karena itu, siapapun yang menginginkan kedudukan mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya, amalan kedua mutlak untuk diamalkan. Caranya, dengan mengasuh, mengasihi, dan memberikan perhatian serta bantuan semampu kita. Jangan menunggu pada momen-momen tertentu saja seperti bulan Muharram atau Ramadhan, namun setiap waktu kita menyempatkan diri untuk berbagi dengan mereka.
Ketiga, penguasa atau pemimpin yang adil, arif, dan bijaksana. Ketika diangkat menjadi khalifah, Sayidina Umar bin Abdul Aziz mendatangi beberapa ulama untuk meminta nasihat.
Salah satu ulama tersebut, Sayidina Hasan Al Bashri, menasihatinya seperti ini, “Anggaplah rakyat seperti ayahmu, saudaramu, dan anakmu. Berbaktilah kepada mereka seperti engkau berbakti pada ayahmu, peliharalah hubungan baik dengan mereka seperti dengan saudaramu, dan sayangilah mereka seperti engkau menyayangi anakmu.” Nasihat ini diingat dan dijalankan dengan baik oleh Umar bin Abdul Aziz.
Umar bin Abdul Aziz khalifah terkenal dengan kehati-hatiannya dalam mengggunakan harta milik rakyatnya, sampai-sampai beliau pernah menutup hidung saat melintas di Baitul Maal yang kala itu sedang merebak bau harum kesturi di sana.
Seorang petugas Baitul Maal terheran-heran dan bertanya, “Wahai khalifah, kenapa engkau menutup hidungmu?” Umar bin Abdul Aziz menjawab, "Aku tak mau memakan harta rakyatku sedikit pun, walau hanya dengan menghirup harum kesturi ini.”
Oleh karenanya, harus ada kesadaran dari seorang pemimpin untuk bersikap adil dan amanat dalam menjalankan roda kepemimpinanya, tidak berat sebelah, memperlakukan masyarakat yang ia pimpin dengan sejajar, tidak timpang, dan tentunya mampu mengangkat kesejahteraan hidup mereka.
Pemimpin yang ideal berarti pemimpin yang adil. Keadilan seorang pemimpin diganjar dengan beragam jaminan. Di antaranya, ia akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat. Selain jaminan naungan, kedudukan seorang pemimpin yang bijaksana adalah memperoleh kedekatan posisi dengan Allah sekaligus Rasul-Nya. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. bersabda, “Sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan tempat duduknya dekat dengan-Nya adalah imam (pemimpin) yang adil.” (HR. Turmudzi).
Perbuatan berikutnya atau keempat yang akan membuat kita memiliki kedudukan dan posisi yang dekat dengan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam adalah mempunyai perangai mulia. Selain membaca shalawat, mengasihi anak-anak yatim, dan menjadi pemimpin yang adil, menghiasi diri dengan keluhuran akhlak dapat menjadi jembatan menuju posisi yang rapat dengan Nabi.
Nabi menegaskan dalam sebuah sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dan Ibnu Asakir. “Orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku kedudukannya di surga adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling aku benci adalah orang-orang yang pongah, sombong, dan takabur.”
Berkat akhlak yang mulia, ada seorang tawanan yang selamat dari pemenggalan. Dalam kitab Kanzul Ummal, disebutkan bahwa Rasul Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk memenggal tujuh tawanan yang berhasil ditangkap oleh pasukan Islam. Tidak lama setelah turun perintah Nabi, datanglah Malaikat Jibril menemui Rasul, lalu berkata, “Hai Muhammad, penggallah leher yang enam, tetapi jangan penggal leher kepala yang ini.”
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam bertanya, “Wahai Jibril, mengapa?” Jibril menjawab, “Ia orang yang berakhlak baik, dermawan, dan senang membagi makanan.” Rasulullah bertanya, “Hai Jibril, apakah ini datang darimu atau Tuhanmu?” Jibril berkata, “Tuhanku memerintahkan aku untuk itu.”
Islam menjadikan akhlak sebagai ukuran kesempurnaan agama seseorang. Artinya, seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mesti menunjukkan akhlak dalam kesehariannya. Baik di jalan, pada saat berkendara, di rumah, saat makan dan minum, di kantor, kampus, di mananpun, ia akan mendahulukan akhlak.
Diutusnya Nabi ke muka bumi membawa misi menyempurnakan akhlak. Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, “Ya Rasul, apakah agama itu?” Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.”
Kemudian ia mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dari sebelah kanannya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Beliau bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dari sebelah kirinya, “Apa agama itu?” Beliau menjawab, “Akhlak yang baik.”
Kemudian ia mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dari belakang dan bertanya, “Apa agama itu?” Rasululah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam menoleh kepadanya dan bersabda, “Belum jugakah engkau mengerti? (Agama itu akhlak yang baik) Sebagai missal, janganlah engkau marah.”
Momentum peringatan maulid sangat pas dijadikan ajang introspeksi diri apakah selama ini diri kita sudah benar-benar menedalani akhlak Nabi? Ataukah ada yang salah pada diri kita dalam memperingati kelahiran Nabi, sehingga kita melupakan ajaran ajaran adi luhung yang telah dipraktekkan oleh beliau selama hayatnya?
Kelahiran Nabi seharusnya tidak hanya diperingati dengan peringatan yang sekadar tradisi yang terulang di tiap musim, setiap tahun sekali. Namun ia merupakan tradisi yang diadakan sebagai alat menghidupkan ajaran nabi di rumah kita, masyarakat kita, tempat kita bekerja. Apalah artinya memperingati maulid tanpa ada keseriusan menghayati dan membumikan perangai kesantunan dalam kehidupan. Wallahu A`lam Bis Shawab.*
Pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Kota Malang
Ada empat hal yang harus kita lakukan untuk meraih kedudukan yang dekat dengan beliau.
Pertama, memperbanyak membaca shalawat. Membaca shalawat kepada nabi merupakan suatu amalan yang istimewa. Keistimewaan itu nampak dengan keikutsertaan Allah dan para Malaikat-Nya untuk turut membacanya. (QS. Al-Ahzab : 56).
Dalam sabdanya, Nabi mengatakan, “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali shalawat dengan penuh ikhlas dari lubuk hatinya,” maka kata nabi ada empat keistimewaan pada orang tersebut. Yaitu, “1. Allah memberikan sepuluh rahmat 2. Mengangkat derajatnya hingga sepuluh derajat 3. Menuliskan sepuluh kebaikan untuknya 4. Menghapus sepuluh dosa keburukannya.” (HR. Bukhari, Nasa`i dan Al Bazzar).
Ketika kita banyak membaca shalawat, kans untuk mendapatkan tempat terhormat, bersanding, dan duduk di dekat Rasululah pada hari kiamat, sangat terbuka lebar. “Sesungguhnya orang yang paling terdekat (utama) kepadaku nanti pada hari kiamat adalah siapa yang paling banyak bershalawat kepadaku,” sabda Nabi yang diriwayatkan Imam Tumrudzi.
Kedua, mengasuh dan mengasihi anak-anak yatim. Berbuat baik terhadap anak yatim/piatu bukanlah sekadar turut membantu menyelesaikan lapar dan dahaga sosialnya. Tetapi, di sisi lain perbuatan itu merasuk ke dalam batin, menenteramkan hati, dan mendamaikan perasaan orang yang memberi perhatian kepada mereka.
Amalan ini melahirkan anugerah di hari akhir, yaitu tempat duduknya dekat dengan tempat duduknya Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Nabi sendiri memberikan garansi soal yang satu ini. “Aku dan orang yang mengurus anak yatim di surga bagaikan ini (beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya lalu merenggangkannya).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Inilah amalan kedua untuk membuat kavling kita di hari akhir dekat dengan kavling Baginda Nabi Muhammad Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Oleh karena itu, siapapun yang menginginkan kedudukan mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya, amalan kedua mutlak untuk diamalkan. Caranya, dengan mengasuh, mengasihi, dan memberikan perhatian serta bantuan semampu kita. Jangan menunggu pada momen-momen tertentu saja seperti bulan Muharram atau Ramadhan, namun setiap waktu kita menyempatkan diri untuk berbagi dengan mereka.
Ketiga, penguasa atau pemimpin yang adil, arif, dan bijaksana. Ketika diangkat menjadi khalifah, Sayidina Umar bin Abdul Aziz mendatangi beberapa ulama untuk meminta nasihat.
Salah satu ulama tersebut, Sayidina Hasan Al Bashri, menasihatinya seperti ini, “Anggaplah rakyat seperti ayahmu, saudaramu, dan anakmu. Berbaktilah kepada mereka seperti engkau berbakti pada ayahmu, peliharalah hubungan baik dengan mereka seperti dengan saudaramu, dan sayangilah mereka seperti engkau menyayangi anakmu.” Nasihat ini diingat dan dijalankan dengan baik oleh Umar bin Abdul Aziz.
Umar bin Abdul Aziz khalifah terkenal dengan kehati-hatiannya dalam mengggunakan harta milik rakyatnya, sampai-sampai beliau pernah menutup hidung saat melintas di Baitul Maal yang kala itu sedang merebak bau harum kesturi di sana.
Seorang petugas Baitul Maal terheran-heran dan bertanya, “Wahai khalifah, kenapa engkau menutup hidungmu?” Umar bin Abdul Aziz menjawab, "Aku tak mau memakan harta rakyatku sedikit pun, walau hanya dengan menghirup harum kesturi ini.”
Oleh karenanya, harus ada kesadaran dari seorang pemimpin untuk bersikap adil dan amanat dalam menjalankan roda kepemimpinanya, tidak berat sebelah, memperlakukan masyarakat yang ia pimpin dengan sejajar, tidak timpang, dan tentunya mampu mengangkat kesejahteraan hidup mereka.
Pemimpin yang ideal berarti pemimpin yang adil. Keadilan seorang pemimpin diganjar dengan beragam jaminan. Di antaranya, ia akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat. Selain jaminan naungan, kedudukan seorang pemimpin yang bijaksana adalah memperoleh kedekatan posisi dengan Allah sekaligus Rasul-Nya. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. bersabda, “Sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan tempat duduknya dekat dengan-Nya adalah imam (pemimpin) yang adil.” (HR. Turmudzi).
Perbuatan berikutnya atau keempat yang akan membuat kita memiliki kedudukan dan posisi yang dekat dengan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam adalah mempunyai perangai mulia. Selain membaca shalawat, mengasihi anak-anak yatim, dan menjadi pemimpin yang adil, menghiasi diri dengan keluhuran akhlak dapat menjadi jembatan menuju posisi yang rapat dengan Nabi.
Nabi menegaskan dalam sebuah sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dan Ibnu Asakir. “Orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku kedudukannya di surga adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling aku benci adalah orang-orang yang pongah, sombong, dan takabur.”
Berkat akhlak yang mulia, ada seorang tawanan yang selamat dari pemenggalan. Dalam kitab Kanzul Ummal, disebutkan bahwa Rasul Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk memenggal tujuh tawanan yang berhasil ditangkap oleh pasukan Islam. Tidak lama setelah turun perintah Nabi, datanglah Malaikat Jibril menemui Rasul, lalu berkata, “Hai Muhammad, penggallah leher yang enam, tetapi jangan penggal leher kepala yang ini.”
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam bertanya, “Wahai Jibril, mengapa?” Jibril menjawab, “Ia orang yang berakhlak baik, dermawan, dan senang membagi makanan.” Rasulullah bertanya, “Hai Jibril, apakah ini datang darimu atau Tuhanmu?” Jibril berkata, “Tuhanku memerintahkan aku untuk itu.”
Islam menjadikan akhlak sebagai ukuran kesempurnaan agama seseorang. Artinya, seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mesti menunjukkan akhlak dalam kesehariannya. Baik di jalan, pada saat berkendara, di rumah, saat makan dan minum, di kantor, kampus, di mananpun, ia akan mendahulukan akhlak.
Diutusnya Nabi ke muka bumi membawa misi menyempurnakan akhlak. Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, “Ya Rasul, apakah agama itu?” Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.”
Kemudian ia mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dari sebelah kanannya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Beliau bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dari sebelah kirinya, “Apa agama itu?” Beliau menjawab, “Akhlak yang baik.”
Kemudian ia mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam dari belakang dan bertanya, “Apa agama itu?” Rasululah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam menoleh kepadanya dan bersabda, “Belum jugakah engkau mengerti? (Agama itu akhlak yang baik) Sebagai missal, janganlah engkau marah.”
Momentum peringatan maulid sangat pas dijadikan ajang introspeksi diri apakah selama ini diri kita sudah benar-benar menedalani akhlak Nabi? Ataukah ada yang salah pada diri kita dalam memperingati kelahiran Nabi, sehingga kita melupakan ajaran ajaran adi luhung yang telah dipraktekkan oleh beliau selama hayatnya?
Kelahiran Nabi seharusnya tidak hanya diperingati dengan peringatan yang sekadar tradisi yang terulang di tiap musim, setiap tahun sekali. Namun ia merupakan tradisi yang diadakan sebagai alat menghidupkan ajaran nabi di rumah kita, masyarakat kita, tempat kita bekerja. Apalah artinya memperingati maulid tanpa ada keseriusan menghayati dan membumikan perangai kesantunan dalam kehidupan. Wallahu A`lam Bis Shawab.*
Pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Kota Malang
MISI Rasulullah adalah memberi kabar gembira dan peringatan bagi seluruh umat manusia, tanpa terkecuali (QS. Saba’: 28). Oleh karenanya, kita menemukan sangat banyak hadits yang berisi kabar gembira seperti jaminan kemenangan Islam dan keindahan surga; atau berisi peringatan seperti pasti hancurnya kebatilan dan kengerian neraka. Sebagian hadits beliau bahkan memberikan rincian cukup detil, sehingga semakin mudah diamalkan.
Di antara rincian detil yang pernah beliau ungkapkan adalah ciri-ciri calon penghuni neraka. Dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’ie, diantaranya beliau menyebutkan sifat lima golongan yang kelak akan menjadi penghuni neraka. Mari kita teliti satu per satu, semoga kita bisa mengintrospeksi diri dan menghindarinya.
Pertama, orang lemah yang tidak berakal. Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, yang dimaksud adalah orang yang tidak memiliki akal yang bisa mencegahnya dari segala sesuatu yang tidak pantas. Dalam Mirqatul Mafatih, Mulla ‘Ali Al-Qari menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak punya keinginan selain memenuhi isi perutnya dengan segala cara, tidak perduli halal maupun haram. Keinginan terbesar mereka tidak pernah beranjak naik dari tingkatan hewani ini, baik dalam urusan agama maupun duniawinya. Perkara ini senada dengan firman Allah:
ذَلِكَ مَبْلَغُهُم مِّنَ الْعِلْمِ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَى
“Maka berpalinglah engkau (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan dia tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Najm: 30).
Kedua, pengkhianat. Teks haditsnya menjelaskan bahwa orang ini memang tidak tampak nyata sifat khianatnya, namun dia punya keinginan ke arah sana. Jika ada kesempatan, meskipun sangat kecil, niscaya dia akan berkhianat juga. Na’udzu billah. Oleh karenanya, Rasulullah pernah menyatakan bahwa satu diantara tiga tanda orang munafik adalah suka berkhianat. Allah juga pernah menyinggung sifat orang semacam ini dalam firman-Nya:
وَلاَ تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنفُسَهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ خَوَّاناً أَثِيماً
يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلاَ يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لاَ يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطاً
“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa. Mereka bisa bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bisa bersembunyi dari Allah, dan Allah beserta mereka ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa': 107-108).
Ketiga, penipu. Dalam hadits itu disebutkan: “Seseorang yang tidak memasuki waktu pagi maupun sore melainkan ia pasti menipumu, baik dalam urusan hartamu maupun keluargamu.” Tidak salah lagi, orang ini pasti penipu tulen, tembus dari permukaan kulit sampai tulang sungsumnya! Bayangkan, tidak pagi tidak sore, pekerjaannya melulu hanya menipu, menipu, dan menipu, dalam segala hal. Adakah kebaikan yang bisa diharapkan darinya? Apakah Allah bersedia mengasihi dan menghindarkan orang semacam ini dari neraka?
Keempat, pembohong atau orang pelit. Sebagian riwayat menyebut “pembohong”, sedangkan riwayat lainnya menyitir “orang pelit”. Mana pun dari keduanya yang tepat, sama saja buruknya. Dikatakan dalam sebuah hadits: “Ada tiga hal yang membuat (seseorang) binasa, yaitu sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, dan ketakjubannya pada diri sendiri.” (Riwayat al-Bazzar dan al-Baihaqi, dengan sanad hasan li-ghairihi). Adapun tentang berbohong, kita sudah diberitahu bahwa ia adalah satu diantara tiga ciri kemunafikan. Padahal, Allah telah menyatakan bahwa orang munafik kelak akan berada di kerak neraka, yakni yang paling dahsyat siksaannya (QS. an-Nisa’: 145). Na’udzu billah.
Kelima, orang yang berakhlak buruk dan banyak berkata/berbuat keji. Tidak sedikit ayat atau hadits yang menganjurkan akhlak terpuji, dan sebaliknya melarang dari akhlak tercela. Bentuknya bisa bermacam-macam, karena memang variasinya pun sangat luas. Maka, ketika menggambarkan sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Anas bin Malik berkata, “Beliau bukanlah orang yang suka mencaci, bukan orang yang suka berkata/berbuat kotor, dan bukan pula orang yang suka melaknat.” (Riwayat Bukhari).
Diceritakan pula bahwa ada seseorang yang mencela Usamah bin Zaid dengan celaan yang sangat buruk. Ketika itulah Usamah berkata, “Sungguh engkau telah menyakitiku. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwasannya Allah membenci orang yang keji dan suka berkata/berbuat keji. Dan sungguh, engkau ini orang yang keji dan suka berkata/berbuat keji.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban. Hadits hasan).
Bila logikanya kita balik, kelima sifat diatas bisa diperjelas oleh hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang apa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga? Beliau menjawab, “Ketakwaan dan akhlak yang baik.” (Riwayat al-Hakim. Menurut adz-Dzahabi: hadits shahih). Maksudnya, kelima sifat diatas seluruhnya merupakan kebalikan dari ketakwaan dan akhlak mulia, yaitu: tidak berpegang pada nilai-nilai kebajikan, suka menipu, gemar berkhianat, pembohong, pelit, dan banyak berbuat keji; sehingga buahnya pun berkebalikan dari surga, yaitu neraka. Semoga Allah membimbing kita semua untuk menjauhinya. Amin. Wallahu a’lam
Di antara rincian detil yang pernah beliau ungkapkan adalah ciri-ciri calon penghuni neraka. Dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’ie, diantaranya beliau menyebutkan sifat lima golongan yang kelak akan menjadi penghuni neraka. Mari kita teliti satu per satu, semoga kita bisa mengintrospeksi diri dan menghindarinya.
Pertama, orang lemah yang tidak berakal. Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, yang dimaksud adalah orang yang tidak memiliki akal yang bisa mencegahnya dari segala sesuatu yang tidak pantas. Dalam Mirqatul Mafatih, Mulla ‘Ali Al-Qari menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak punya keinginan selain memenuhi isi perutnya dengan segala cara, tidak perduli halal maupun haram. Keinginan terbesar mereka tidak pernah beranjak naik dari tingkatan hewani ini, baik dalam urusan agama maupun duniawinya. Perkara ini senada dengan firman Allah:
ذَلِكَ مَبْلَغُهُم مِّنَ الْعِلْمِ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَى
“Maka berpalinglah engkau (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan dia tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Najm: 30).
Kedua, pengkhianat. Teks haditsnya menjelaskan bahwa orang ini memang tidak tampak nyata sifat khianatnya, namun dia punya keinginan ke arah sana. Jika ada kesempatan, meskipun sangat kecil, niscaya dia akan berkhianat juga. Na’udzu billah. Oleh karenanya, Rasulullah pernah menyatakan bahwa satu diantara tiga tanda orang munafik adalah suka berkhianat. Allah juga pernah menyinggung sifat orang semacam ini dalam firman-Nya:
وَلاَ تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنفُسَهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ خَوَّاناً أَثِيماً
يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلاَ يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لاَ يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطاً
“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa. Mereka bisa bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bisa bersembunyi dari Allah, dan Allah beserta mereka ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa': 107-108).
Ketiga, penipu. Dalam hadits itu disebutkan: “Seseorang yang tidak memasuki waktu pagi maupun sore melainkan ia pasti menipumu, baik dalam urusan hartamu maupun keluargamu.” Tidak salah lagi, orang ini pasti penipu tulen, tembus dari permukaan kulit sampai tulang sungsumnya! Bayangkan, tidak pagi tidak sore, pekerjaannya melulu hanya menipu, menipu, dan menipu, dalam segala hal. Adakah kebaikan yang bisa diharapkan darinya? Apakah Allah bersedia mengasihi dan menghindarkan orang semacam ini dari neraka?
Keempat, pembohong atau orang pelit. Sebagian riwayat menyebut “pembohong”, sedangkan riwayat lainnya menyitir “orang pelit”. Mana pun dari keduanya yang tepat, sama saja buruknya. Dikatakan dalam sebuah hadits: “Ada tiga hal yang membuat (seseorang) binasa, yaitu sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, dan ketakjubannya pada diri sendiri.” (Riwayat al-Bazzar dan al-Baihaqi, dengan sanad hasan li-ghairihi). Adapun tentang berbohong, kita sudah diberitahu bahwa ia adalah satu diantara tiga ciri kemunafikan. Padahal, Allah telah menyatakan bahwa orang munafik kelak akan berada di kerak neraka, yakni yang paling dahsyat siksaannya (QS. an-Nisa’: 145). Na’udzu billah.
Kelima, orang yang berakhlak buruk dan banyak berkata/berbuat keji. Tidak sedikit ayat atau hadits yang menganjurkan akhlak terpuji, dan sebaliknya melarang dari akhlak tercela. Bentuknya bisa bermacam-macam, karena memang variasinya pun sangat luas. Maka, ketika menggambarkan sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Anas bin Malik berkata, “Beliau bukanlah orang yang suka mencaci, bukan orang yang suka berkata/berbuat kotor, dan bukan pula orang yang suka melaknat.” (Riwayat Bukhari).
Diceritakan pula bahwa ada seseorang yang mencela Usamah bin Zaid dengan celaan yang sangat buruk. Ketika itulah Usamah berkata, “Sungguh engkau telah menyakitiku. Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwasannya Allah membenci orang yang keji dan suka berkata/berbuat keji. Dan sungguh, engkau ini orang yang keji dan suka berkata/berbuat keji.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban. Hadits hasan).
Bila logikanya kita balik, kelima sifat diatas bisa diperjelas oleh hadits yang diceritakan oleh Abu Hurairah: bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang apa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga? Beliau menjawab, “Ketakwaan dan akhlak yang baik.” (Riwayat al-Hakim. Menurut adz-Dzahabi: hadits shahih). Maksudnya, kelima sifat diatas seluruhnya merupakan kebalikan dari ketakwaan dan akhlak mulia, yaitu: tidak berpegang pada nilai-nilai kebajikan, suka menipu, gemar berkhianat, pembohong, pelit, dan banyak berbuat keji; sehingga buahnya pun berkebalikan dari surga, yaitu neraka. Semoga Allah membimbing kita semua untuk menjauhinya. Amin. Wallahu a’lam
Manusia hidup di dunia umumnya pasti mendamba kesenangan. Bermacam usaha yang dilakukan manusia tujuannya tidak lain adalah agar memperoleh kesenangan hidup itu. Persoalannya, apakah kesenangan hidup otomatis mendatangkan ketenangan hidup?
Islam membedakan antara kesenangan dan ketenangan. Buktinya banyak orang hidup senang tetapi justru tidak tenang. Jika meminjam pendapat Imam Ghazali dalam Al-Munqidz min Al-Dhalal, ada empat faktor yang menjadi sumber kesenangan.
Pertama, ilmu pengetahuan. Terlebih di zaman modern ini, orang berilmu berpeluang lebih besar mendapat kesenangan ketimbang orang bodoh. Contohnya, yang bergelar sarjana lebih mudah mendapat pekerjaan mapan daripada yang tidak bergelar.
Kedua, kesehatan. Pasti tidak ada orang yang ingin sakit. Sehat membuat hidup menyenangkan, sakit membuat hidup menggelisahkan. Saat sakit, kita tidak boleh makan sembarangan. Semakin kompleks penyakitnya, semakin banyak pula pantangannya. Juga kita tidak bebas melakukan apa saja seperti ketika sehat.
Ketiga, kekayaan. Orang bekerja, sampai menghalalkan segala cara, maksudnya adalah supaya segera kaya. Orang kaya lebih berpeluang untuk senang ketimbang orang miskin. Dengan harta, orang mudah membeli apa saja, rekreasi kemana saja, bahkan berangkat haji ke Tanah Suci.
Keempat, kesenangan bersumber dari jabatan. Jabatan menjadi jaminan kemudahan-kemudahan dalam hidup. Orang yang punya jabatan tinggi juga lebih dihormati ketimbang orang rendahan. Jabatan membuat hidup jadi mentereng, dan karenanya, menjadi sumber kesenangan.
Persoalannya, punya empat hal itu pasti menjamin hidup kita tenang dan tentram? Tidak. Empat hal di atas belum cukup untuk mendatangkan ketenangan. Ketenangan baru didapat ketika kita punya yang kelima, yaitu hubungan baik dengan Allah.
Batin yang terhubung dengan Allah inilah yang membuat hidup jadi tenang, tenteram. Dan sarana untuk membuat kita connect dengan Allah adalah ibadah. Ibadah secara ikhlas, benar, istiqamah akan menjadi sumber ketenangan. “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (Ar-Ra'du: 28).
Ibadah juga potensial menghalangi kita dari dosa (Al-Ankabut: 45), membersihkan jiwa kita (At-Taubah: 103). Dengan aktif beribadah, hidup kita terbimbing. Selalu merasa kehadiran Allah. Tidak sombong saat mendapat nikmat, tidak putus asa ketika ditimpa musibah.
Sebagai Mukmin, tidak salah kita mendapat ilmu pengetahuan, kesehatan, kekayaan, dan jabatan. Tapi itu semua harus kita topang dengan ibadah. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat kesenangan sekaligus ketenangan. Kesenangan plus ketenangan itulah kebahagiaan.
Oleh : M Husnaini
Seorang pemuda asal Yaman mengklaim menemukan salinan Alquran tertua di dunia. Lelaki tidak disebutkan identitasnya ini yakin temuannya itu merupakan Alquran pertama, seperti dilansir situs berbahasa Arab Aden Gulf News.
Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Jumat (12/10/12), remaja ini berkukuh tidak akan menjual Alquran itu walau sempat ditawar Rp 537 juta. Alquran berbungkus kulit itu ditemukan di dalam gua di pegunungan Kota Dhale, sebelah selatan Yaman. Namun tidak ada penjelasan kapan kitab suci tertua umat Islam itu ditemukan.
Alquran ini terbukti asli sebagai Alquran setelah dilakukan pengujian untuk pertama kali. Pada halaman pertama di Alquran itu tertulis, “Naskah ini ditulis pada 200 Hijriah (814 Masehi)’.
Pembuktian Alquran itu memang berasal dari masa lalu terlihat dari tidak adanya titik di huruf. Penggunaan titik dalam aksara Arab baru digunakan buat membedakan bentuk huruf sama.
Pemuda ini juga menemukan pedang Zulfikar. Pedang ini dipercaya diberikan Nabi Muhammad sebagai hadiah kepada Ali bin Abi Thalib, menantu sekaligus khalifah keempat setelah Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman bin Affan.
Nabi Muhammad dipercaya hidup antara tahun 570 sampai 632 Masehi. Alquran dibuat dalam bentuk kitab dan diperkenalkan kepada dunia pada masa Khalifah Usman bin Affan, 610 sampai 632 Masehi.
Bagi warga Palestina pendukung kelompok Harakatul al-Muqawamah al-Islamiyah atau Hamas nama Yahya Ayash harum untuk dikenang. Dia menjadi inspirasi ribuan pemuda Islam, khususnya di Palestina untuk gencar melawan Israel. Dia mengubah batu menjadi bom-bom mematikan menghentikan langkah kendaraan berat Zionis.
Dilansir dari biography.com, hari ini dunia Islam memperingati terbunuhnya martir Hamas itu oleh badan intelijen Israel Shin Beth. Lelaki cerdas ini memang menjadi target cukup lama. Negeri Bintang Daud menilainya sangat berbahaya sebab otak Ayash menyimpan ribuan ide untuk mencipta senjata-senjata dan peledak rakitan bertujuan menggempur militer Israel. Secara fisik, tubuhnya kecil, pendiam, matanya tajam, dan senyumnya bijaksana. Siapapun pernah bertemu dengannya melukiskan dia sebagai pribadi rendah hati dan sederhana.
Ayash lahir di Kota Rafah pada 22 Februari 1966. Kecerdasannya menakjubkan dan membuat para pendidiknya geleng-geleng kepala. Dia menamatkan sekolah menengah atas dengan nilai nyaris sempurna. Setelah lulus, dia langsung bergabung di gerakan militer sayap kanan Hamas Brigade Izzudin al-Qassam, sembari berkuliah di Universitas Beirzeit jurusan teknik elektro.
Pecah perang Intifada pertama Palestina tidak mempunyai cadangan bom sebab jalur bantuan telah ditutup Israel. Ini membuat Ayash memutar otak untuk membuat peledak dari bahan dasar kimia bisa dibeli di apotik. Ramuannya berhasil dan bom-bom buatannya mengguncang Zionis. Awalnya Ayash bekerja sangat licin namun mata-mata Israel tersebar terlalu banyak hingga mereka mengantongi nama Ayash menjadi buronan nomor wahid harus dimusnahkan.
Empat tahun Israel mencoba mengejarnya dan Ayash terlalu licin. Mereka kehabisan akal menangkap lelaki itu. Masa pengejaran menjadi catatan gemilang perjuangan Ayash dan Hamas. Keterampilannya menghilang dari mata musuh memaksa Israel mengerahkan kekuatan mereka mulai dari tentara unit-unit militer khusus, kepolisian, tentara perbatasan, dan dinas intelijen, tapi tidak ada yang berhasil meringkusnya.
Empat tahun sudah Perdana Menteri Yitzhak Rabin saat itu menjabat memasang nama Ayash pada urutan pertama dalam file khusus orang-orang sangat berbahaya. File ini mendapat prioritas dalam program pemerintahannya. Kesepakatan terjalin setelah mereka berhasil membuat salah satu anggota Hamas membelot untuk menjadi kaki tangan memasang bom di saluran telepon pribadi Ayash.
Jumat, 5 Januari 1996, televisi Israel mengumumkan Ayash telah tewas di Beit Lahia, Jalur Gaza. Bom itu berhasil meledakkan kepalanya dan ini menjadi peristiwa paling emosional bagi Palestina dan Hamas. Meski jasadnya hancur, dia berkesempatan mewarisi generasi perakit bom selanjutnya di tubuh Brigade Izzudin al-Qassam. Peledak-peledak itu masih meluluh lantakkan militer Israel buah pemikiran Ayash.
Kini Palestina memasuki babak baru untuk menjadi sebuah negara setelah wilayah mereka diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun lalu. Namun berbagai pihak menyangsikan Israel bakal menerima keputusan itu dan tengah menghimpun kekuatan untuk kembali menggempur Palestina. Sebelas dua belas, Hamas pun tengah menumpuk peledak-peledak berbahaya jika Zionis kembali menabuh genderang perang. Seperti kata pemimpin senior Hamas Mahmud Zahar, jiwa Ayash selalu ada di setiap nyawa pejuang Palestina dan perang Intifada.
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, وصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد
Hujan merupakan salah satu perkara terpenting bagi kehidupan di muka bumi. Ia merupakan sebuah prasyarat bagi kelanjutan aktivitas di suatu tempat. Hujan–yang memiliki peranan penting bagi semua makhluk hidup, termasuk manusia–disebutkan pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an mengenai informasi penting tentang hujan, kadar dan pengaruh-pengaruhnya.
Informasi ini, yang tidak mungkin diketahui manusia di zamannya, menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur’an merupaka kalam Allah. Sekarang, mari kita kaji informasi-informasi tentang hujan yang termaktub di dalam Al-Qur’an.
A. Kadar Hujan
Di dalam ayat kesebelas Surat Az-Zukhruf, hujan dinyatakan sebagai air yang diturunkan dalam “ukuran tertentu”. Sebagaimana ayat di bawah ini:
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS. Az-Zukhruf : 11)
“Kadar” yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi dalam sebuah siklus seimbang menurut “ukuran” tertentu.
Pengukuran lain yang berkaitan dengan hujan adalah mengenai kecepatan turunnya hujan. Ketinggian minimum awan adalah sekitar 12.000 meter. Ketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558km/jam. Tentunya, objek apapun yang jatuh dengan kecepatan tersebut akan mengakibatkan kerusakan.
Dan apabila hujan turun dengan cara demikian, maka seluruh lahan tanaman akan hancur, pemukiman, perumahan, kendaraan akan mengalami kerusakan, dan orang-orang pun tidak dapat pergi keluar tanpa mengenakan alat perlindungan ekstra. Terlebih lagi, perhitungan ini dibuat untuk ketinggian 12.000 meter, faktanya terdapat awan yang memiliki ketinggian hanya sekitar 10.000 meter. Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini tentu saja akan jatuh pada kecepatan yang mampu merusak apa saja.
Namun tidak demikian terjadinya, dari ketinggian berapapun hujan itu turun, kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah. Hal ini disebabkan karena bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa. Keistimewaan bentuk tetesan hujan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer dan mempertahankan kelajuan tetesan-tetesan hujan krtika mencapai “batas” kecepatan tertentu. (Saat ini, parasut dirancang dengan menggunakan teknik ini).
Tak sebatas itu saja “pengukuran” tentang hujan. Contoh lain misalnya, pada lapisan atmosferis tempat terjadinya hujan, temperatur bisa saja turun hingga 400oC di bawah nol. Meskipun demikian, tetesan-tetesan hujan tidak berubah menjadi partikel es. (Hal ini tentunya merupakan ancaman mematikan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.) Alasan tidak membekunya tetesan-tetesan hujan tersebut adalah karena air yang terkandung dalam atmosfer merupakan air murni. Sebagaimana kita ketahui, bahwa air murni hampir tidak membeku pada temperatur yang sangat rendah sekalipun.
Bagaimana hujan terbentuk tetap menjadi misteri bagi manusia dalam kurun waktu yang lama. Hanya setelah ditemukannya radar cuaca, barulah dapat dipahami tahapan-tahapan pembentukan hujan. Pembentukan hujan terjadi dalam tiga tahap. Pertama, “bahan mentah” hujan naik ke udara. Kemudian terkumpul menjadi awan. Akhirnya, tetesan-tetesan hujan pun muncul.
Tahapan-tahapan ini secara terperinci telah tertulis dalam Al-Qur’an berabad-abad tahun lalu sebelum informasi mengenai pembentukan hujan disampaikan:
اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى
الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ ۖ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
“Allah, dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal: lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambanya yang di kehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum : 48)
Sekarang, mari kita lihat pada tiga tahapan yang disebutkan dalam Al-Qur’an:
Tahap Pertama : “ Allah, dialah yang mengirimkan angin…..”
Gelembung-gelembung udara yang tidak terhitung jumlahnya dibentuk oleh buih-buih di lautan yang secara terus-menerus pecah dan mengakibatkan partikel-partikel air tersembur ke udara menuju ke langit. Partikel-partikel ini –yang kaya akan garam– kemudian terbawa angin dan bergeser ke atas menuju atmosfer. Partikel-partikel ini (disebut aerosol) membentuk awan dengan mengumpulkan uap air (yang naik dari lautan sebagai tetesan-tetesan oleh sebuah proses yang dikenal dengan “JebakanAir”) di sekelilingnya.
Tahap Kedua : “…..lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadi bergumpal-gumpal…..”
Awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekitar kristal-kristal garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena tetesan-tetesan air di sini sangat kecil (dengan diameter antara 0,01-0,02 mm), awan mengapung di udara dan menyebar di angkasa. Sehingga langit tertutup oleh awan.
Tahap Ketiga : “….lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun.”
Partikel-partikel air yang mengelilingi kristal-kristal garam dan partikel-partikel debu mengental dan membentuk tetesan-tetesan hujan. Sehingga, tetesan-tetesan tersebut, yang menjadi lebih berat dari udara, meninggalkan awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.
Setiap tahap dalam pembentukan hujan disampaikan dalam Al-Qur’an. Terlebih lagi, tahapan-tahapan tersebut dijelaskan dalam runtutan yang benar. Seperti halnya fenomena alam lain di dunia, lagi-lagi Al-Qur’an lah yang memberikan informasi yang paling tepat tentang fenomena ini, selain itu, Al-Qur’an telah memberitahukan fakta-fakta ini kepada manusia berabad-abad sebelum sains sanggup mengungkapnya.
Allah telah menurunkan hujan sebagai rahmat di saat dibutuhkan oleh seluruh makhluk.
Allah Ta’ala berfirman
وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ
“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syuura [41] : 28).
Yang dimaksudkan dengan rahmat di sini adalah hujan sebagaimana dikatakan oleh Maqotil.
C. Keberkahan dan Manfaat Hujan
Hujan adalah air yang diturunkan dari langit dan penuh keberkahan.
Allah Ta’ala berfirman
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ
“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS. Qaaf [50] : 9).
Yang dimaksud keberkahan di sini adalah banyaknya kebaikan.
Di antara keberkahan dan manfaat hujan adalah manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan sangat membutuhkannya untuk keberlangsungan hidup, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-Anbiya’ [21] : 30).
Al Baghowi menafsirkan ayat ini, “Kami menghidupkan segala sesuatu menjadi hidup dengan air yang turun dari langit yaitu menghidupkan hewan, tanaman dan pepohonan. Air hujan inilah sebab hidupnya segala sesuatu.
D. Beberapa Amalan Ketika Turun Hujan
Pertama: Takut datangnya adzab ketika mendung.
Ketika muncul mendung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu khawatir, jangan-jangan akan datang adzab dan kemurkaan Allah.”
Kedua: Do’a ketika turun hujan sebagai rasa syukur pada Allah.
’Aisyah radhiyallahu ’anha berkata, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”.
Ketiga: Turunnya hujan, kesempatan terbaik untuk memanjatkan do’a.
Ibnu Qudamah dalam Al Mughni mengatakan, ”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : (1) Bertemunya dua pasukan, (2) Menjelang shalat dilaksanakan, dan (3) Saat hujan turun.”
Keempat: Do’a ketika terjadi hujan lebat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a, “Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].”
Kelima: Do’a ketika terjadi angin kencang.
Dianjurkan bagi seorang muslim ketika terjadi angin kencang untuk membaca do’a berikut sebagaimana yang disebutkan dalam hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammengucapkan ketika itu,
“Allahumma inni as-aluka khoirohaa wa khoiro maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bihi, wa a’udzu bika min syarrihaa wa syarri maa fiiha wa syarri maa ursilat bihi (Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu baiknya angin ini dan kebaikan yang ada padanya, dan aku memohon kebaikan dari yang diutus dengannya. Aku berlindung kepada-Mu dari buruknya angin ini, dan keburukan yang ada padanya dan aku berlindung dari keburukan yang diutus dengannya)”
Keenam: Do’a ketika mendengar suara petir.
Apabila ’Abdullah bin Az Zubair mendengar petir, dia menghentikan pembicaraan, kemudian mengucapkan, “Subhanalladzi yusabbihur ro’du bi hamdihi wal mala-ikatu min khiifatih” (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya).”
Ketujuh: Mengambil berkah dari air hujan.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.”
An Nawawi menjelaskan,
“Makna hadits ini adalah hujan itu rahmat yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertabaruk (mengambil berkah) dari hujan tersebut.”
Kedelapan: Dianjurkan berwudhu dengan air hujan.
Dalilnya, “Apabila air mengalir di lembah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci”. Kemudian kami bersuci dengannya.”
Kesembilan: Tidak boleh mencela hujan.
Sebagian orang sering keluar dari mulutnya celaan, “Aduh!! hujan lagi, hujan lagi”. Ketahuilah, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasehatkan kita agar jangan selalu menjadikan makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa sebagai kambing hitam jika kita mendapatkan sesuatu yang tidak kita sukai. Seperti beliau melarang kita mencela waktu dan angin karena kedua makhluk tersebut tidak dapat berbuat apa-apa.
Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’alaberfirman (yang artinya), “Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.”
Dari dalil di atas terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu) dan angin adalah sesuatu yang terlarang. Begitu pula halnya dengan mencaci maki makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa, seperti mencaci maki angin dan hujan adalah terlarang.
Kesepuluh: Do’a setelah turun hujan
Do’anya adalah, “Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah).”
E. Keringanan Ketika Turun Hujan
Pertama: Bolehnya meninggalkan shalat jama’ah di masjid ketika turun hujan.
Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, beliau mengatakan kepada mu’adzin pada saat hujan, ”Apabila engkau mengucapkan ’Asyhadu allaa ilaha illalloh, asyhadu anna Muhammadar Rasulullah’, maka janganlah engkau ucapkan ’Hayya ’alash sholaah’. Tetapi ucapkanlah ’Sholluu fii buyutikum’ [Sholatlah di rumah kalian]. …”
An Nawawi – semoga Allah merahmati beliau – menjelaskan, ”Dari hadits di atas terdapat dalil tentang keringanan untuk tidak melakukan shalat jama’ah ketika turun hujan dan ini termasuk udzur (halangan) untuk meninggalkan shalat jama’ah. Dan shalat jama’ah -sebagaimana yang dipilih oleh ulama Syafi’iyyah- adalah shalat yang mu’akkad (betul-betul ditekankan) apabila tidak ada udzur . Dan tidak mengikuti shalat jama’ah dalam kondisi seperti ini adalah suatu hal yang disyari’atkan (diperbolehkan) bagi orang yang susah dan sulit melakukannya. Hal ini berdasarkan riwayat lainnya, ”Siapa yang mau, silahkan mengerjakan shalat di rihal (kendaraannya) masing-masing.”
Sayid Sabiq -semoga Allah merahmati beliau- dalam Fiqh Sunnah menyebutkan salah satu sebab yang membolehkan tidak ikut shalat berjama’ah adalah cuaca yang dingin dan hujan. Lalu beliau membawakan perkataan Ibnu Baththol yang menyatakan bahwa hal ini adalah ijma’ (kesepakatan para ulama).
Dari hadits-hadits yang dibawakan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya, ada beberapa lafadz tambahan adzan ketika kondisi hujan, dingin, berangin kencang, dan tanah yang penuh lumpur baik ketika mukim maupun safar :
Alaa shollu fir rihaal artinya Hendaklah shalat di rumah (kalian)
Alaa shollu fi rihaalikum artinya Hendaklah shalat di rumah kalian
Sholluu fii buyutikum artinya Sholatlah di rumah kalian
An Nawawi mengatakan, “Lafadz ini boleh diucapkan setelah adzan maupun di tengah-tengah adzan karena terdapat dalil mengenai dua model ini. Akan tetapi, mengucapkannya sesudah adzan lebih baik agar lafadz adzan yang biasa diucapkan tetap ada.”
Kedua: Bolehnya menjama’ shalat ketika hujan deras.
Dari Abu Az Zubair, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, beliau berkata, ”Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah mengerjakan shalat Dzuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya’ secara jama’, bukan dalam keadaan takut maupun safar.” Yang meriwayatkan dari Abu Az Zubair adalah Imam Malik dalam Muwatho’nya. Imam Malik mengatakan, ”Aku menyangka bahwa menjama’ di sini adalah ketika hujan.”
Al Baihaqi mengatakan, ”Begitu pula hadits ini diriwayatkan oleh Zuhair bin Mu’awiyah dan Hammad bin Salamah, dari Abu Az Zubair, juga dikatakan, ”(Beliau menjama’) bukan karena keadaan takut dan bukan pula karena safar. Akan tetapi dalam riwayat tersebut tidak disebutkan shalat Maghrib dan ’Isya dan hanya disebut jama’ tersebut dilakukan di Madinah.” Artinya, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallammelakukan jama’ ketika mukim (tidak bepergian) dalam kondisi hujan.
Beberapa point yang perlu diperhatikan:
Yang diperintahkan ketika hujan adalah menjama’ shalat (menggabungkan dua shalat) tanpa perlu mengqoshor.
Jama’ dilakukan dengan imam di masjid dan bukan dilakukan di rumah.
Apabila shalat telah dijama’ pada waktu pertama dari dua shalat, lalu setelah dijama;’, hujan tersebut reda, maka shalatnya tetap sah dan tidak perlu diulangi.
Boleh menjama’ shalat zhuhur dan ashar atau maghrib dan Isya. Yang paling afdhol jika dilakukan dengan jama’ taqdim.
Hujan yang membolehkan seseorang menjama’ shalat adalah hujan yang bisa membuat pakaian basah kuyup dan mendapatkan kesulitan jika harus berjalan dalam kondisi hujan semacam itu. Adapun hujan yang rintik-rintik dan tidak begitu deras, maka tidak boleh untuk menjama’ shalat ketika itu.
Demikian panduan ringkas mengenai beberapa amalan dan keringanan dari syariat ketika turun hujan. Semoga kita dimudahkan untuk mengamalkannya walaupun di tengah keterasingan. Hanya Allah yang memberi taufik.
Wallahua’lam bishshowwab
Semoga bermanfaat !
Sumber:
HarunYahya.com
Muhammad Abduh Tuasikal
Bukan menjadi rahasia umum lagi jika isu liberalisme bukan barang baru bagi Indonesia. Sebab, sebelumnya isu ini telah dikampanyekan sejak lama oleh mendia Dr Nurcholish Madjid.
Meski demikian, yang saat ini menjadi tantangan utama umat Islam bukanlah Jaringan Islam Liberal (JIL), salah satu kelompok kecil yang sering membawakan program-program liberalism, namun tantangan sesungguhnya umat Islam adalah orientalisme dan westernisasi.
Demikian diungkapkan Dr Adian Husaini salah satu pendiri lembaga pemikiran keagamaan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) mengenang pertama kalinya lembaga itu didirikan.
Menurut mantan wartawan Republika ini, INSISTS telah hadir 10 tahun dan memiliki banyak jaringan di Indonesia semata-mata karena takdir Allah.
“Kehadiran INSISTS pada tahun 2003, semua adalah takdir Allah, saat itu kami masih kuliah di ISTAC Kuala Lumpur,” kata Adian saat membukan acara musyawarah kerja dan “Tasyakuran 10 tahun INSISTS”, di Gedung Pertemuan Al Irsyad, Karang Pandan, Solo, Jawa Tengah, Jum’at (25/01/2013).
Oleh karenanya Adian mengutip pesan pendiri Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Mohammad Natsir mengenai tiga tantangan dakwah.
“Pak Natsir berpesan ada 3 tantangan dakwah; Sekularisasi yang menjelma menjadi liberalisasi meskipun liberalisasi ini sudah di antisipasi juga, tantangan berikutnya adalah nativisisasi, nativisasi yaitu mengembalikan Indonesia kembali pada jam pra Islam (nativisasi) dan kristenisasi,” ujarnya.
Menurut Adian, pada tanggal 1 Juni 1990 Mohammad Natsir kala itu mengumpulkan tokoh-tokoh Islam dan menyampaikan keprihatinannya akan ide sekularisasi Cak Nur.
“Pak Natsir sampai mengatakan, meski Cak Nur sudah kuanggap sebagai anak kandungku sendiri tapi pemikirannya sangat berbahaya. Sehingga liberalisasi sudah digunakan secara eksplisit, jadi bukan isu baru,” jelasnya.
Menurut Adian, yang dikenal penulis produktif ini, tokoh-tokoh Islam Indonesia sudah jauh-jauh hari mengingatkan masalah seperti ini.
“Pada tahun 1975, pak H.M Rasyidi sudah dari jauh hari mengingatkan. Kita menghadapi liberalisasi agama yang rumit karena datang dari sudut Islam tapi juga liberalisasi dari turunan penjajah,” terang Adian.
Selain menjelaskan tantangan dakwah, Adian juga mengabarkan, bila di usianya yang sudah 10 tahun ini, INSISTS akan secara serius membuka S2 pendidikan sains Islam.
“Kita sedang membenahi kurikulum pendidikan sains, kita buka S2 pendidikan sains Islam,” katanya.
Selama ini, kata Adian, belum ada satu kampus Islam yang bisa menjadi contoh di tingkat internasional. Oleh karenanya ia berharap ada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dari jaringan INSISTS se Indonesia.
Seperti diketahui, Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) kini memasuki usia 10 tahun. Mengawali acara musyawarah, Direktur INSISTS, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil memberikan orasi ilmiah tentang perlunya silaturrahmi ilmiah antar organisasi dan gerakan untuk membangun peradaban Islam.














